Yuan Kembali Terdepresiasi Hingga Menyentuh Level 7 Per Dollar

Pemerintah Cina pada sesi perdagangan pasar mata uang di awal pekan ini, telah membiarkan nilai tukar Yuan jatuh melampaui level kunci di kisaran 7.000 per Dollar untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Hal ini memberikan gambaran bahwa Beijing kemungkinan bersedia untuk mentoleris pelemahan mata uangnya lebih lanjut guna menghadapi meningkatnya perselisihan perdagangan dengan pihak AS. Penurunan tajam 1,4% dalam yuan terjadi setelah Bank Rakyat China (PBOC) menetapkan titik tengah harian dari perdagangan mata uang CNY di 6,9225 per dollar, yang merupakan level terlemah sejak Desember 2018.

Terkait akan hal tersebut, Ken Cheung selaku ahli strategi senior FX Asia di Mizuho Bank di Hong Kong, mengatakan bahwa People’s Bank of China telah sepenuhnya memberikan lampu hijau untuk depresiasi mata uang Yuan.

Guncangan ini terjadi dalam beberapa hari pasca Presiden AS Donald Trump bersumpah akan menerapkan kebijakan tarif 10% terhadap sisa impor Cina senilai $300 milliar di 1 September mendatang, yang memberikan kejutan di pasar keuangan seiring hal ini telah menghentikan “gencatan senjata” dalam trade war AS-Cina.

Dengan peningkatan tensi ketegangan trade war antara kedua belah negara, telah memberikan sedikit alasan bagi Beijing untuk menjaga stabilitas mata uang Yuan, yang dinilai oleh para analis bahwa kemungkinan mata uang tersebut akan terus mengalami pelemahan.

Seperti yang disampaikan oleh Zhang Yi selaku Kepala Ekonom di Zhinghai Shengrong Capital Management Beijing, bahwa dalam jangka pendek, kekuatan Yuan sangat ditentukan oleh ekonomi domestiknya, dan jika pertumbuhan ekonomi di periode kuartal ketiga berjalan dengan stabil, maka nilai tukar mata uang Yuan akan stabil di kisaran 7.2 atau 7.3 terhadap Dollar.

Sementara ekonom senior Capital Economics Cina, Julian Evans-Pritchard mengatakan, PBOC mungkin menahan diri untuk tidak membiarkan yuan yang lebih lemah untuk menghindari perundingan negosiasi perdagangan dengan Amerika Serikat. Dalam sebuah pernyataan pada pagi hari tadi, bank sentral Cina mengatakan bahwa ada kaitan antara melemahnya Yuan dengan dampak dari trade war, namun mereka menilai bahwa hal ini tidak akan membuat PBOC mengubah kebijakan mata uangnya dan fluktuasi dua arah dari mata uang Yuan merupakan sesuatu yang normal.

Lebih lanjut PBOC mengatakan bahwa di bawah pengaruh dari sejumlah faktor, termasuk unilateralisme, langkah-langlah perdagangan proteksionisme dan ekspektasi kebijakan tarif terhadap Cina, nilai tukar mata uang Yuan telah terdepresiasi hingga menembus 7 Yuan per Dollar.

Gejolak dalam ketegangan perdagangan telah memperbaharui kekhawatiran pasar keuangan global tentang seberapa banyak Cina akan membiarkan yuan melemah untuk mengimbangi tekanan yang lebih berat pada para eksportirnya.

Sebelumnya para analis mengatakan bahwa otoritas akan menjaga depresiasi nilai tukarnya, karena kekhawatiran mengenai kemungkinan arus modal keluar.(WD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini