Yen Diuntungkan Oleh Meningkatnya Kekhawatiran Pasar

Mata uang Yen Jepang diperdagangkan mendekati level tertingginya dalam delapan bulan terakhir terhadap US Dollar di sesi perdagangan waktu Asia hari ini, setelah munculnya kekhawatiran baru terhadap sengketa perdagangan AS-Cina serta adanya tanda-tanda bahwa bank sentral merasa khawatir terhadap prospek ekonomi global sehingga memberikan dukungan bagi aset safe haven.

Mata uang safe haven termasuk Yen Jepang lebih cenderung mendapatkan minat beli disaat terjadi ketidakpastian ekonomi, dan saat ini Yen terpantau masih berada di jalur kenaikan mingguannya yang kedua terhadap greenback serta kenaikan mingguan ketiga terhadap Aussie dan Dollar Selandia Baru.

Sejumlah investor dan ekonom merasa khawatir bahwa Trade War antara dua negara ekonomi terbesar dunia, telah memasuki fase baru yang berpotensi merusak tatanan ekonomi global. Dengan demikian pesimisme yang meningkat di pasar telah memberikan dukungan bagi perdagangan risk-off yang tentunya mendatangkan keuntungan bagi aset safe haven seperti Yen dan komoditas Emas.

Ahli strategi valas di Daiwa Securities di Tokyo, Yuko Ishizuki mengatakan bahwa aksi penghindaran risiko akan terjadi untuk sementara waktu di pasar dan indikasi terbesar dari hal tersebut adalah komoditas Emas tidak akan menunjukkan tanda-tanda lonjakan yang tajam. Lebih jauh Ishizuki menilai bahwa dalam hal menentukan posisi di pasar, sejumlah spekulan terlalu lama untuk membeli mata uang Yen, namun demikian masih banyak pelaku pasar yang nyaman untuk tetap menjual Dollar dan membeli Yen.

Mata uang US Dollar sedikti berubah di kisaran 105.98, dan sempat merosot hingga ke 105.50 yang merupakan level terendah sejak terjadinya flash crash di bulan Januari lalu, sehingga berpotensi menyentuh level 105.00. Sementara komodita spot Emas mencatat kenaikan 0.3% di sesi perdagangan waktu Asia menjadi $1500.80 per troy ounce, mendekati level tertingginya dalam enam tahun terakhir.

Semuanya ini diakibatkan oleh trade war AS-Cina yang semakin memberikan cerminan potensi terjadinya resesi AS, sehingga mayoritas ekonom yang disurvei oleh Reuterse memperkirakan bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunganya kembali di pertemuan bulan September mendatang dan kemungkinan penurunan satu kali lagi di tahun depan.(WD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini