Uni Eropa Bersiap Meninjau Kembali Peraturan Fiskal

Dalam dokumen yang dikenal sebagai Pakta Stabilitas dan Pertumbuhan dari pemerintah Uni Eropa, disebutkan bahwa Uni Eropa tengah bersiap untuk meninjau kembali peraturan fiskal mereka yang ketat disaat pertumbuhan di kawasan tersebut mengalami perlambatan, sementara stimulus keuangan dinilai telah mendekati batasnya.

Penilaian berkala tersebut memang mengacu pada peraturan dari Uni Eropa, namun hal ini dilakukan pada saat banyak yang mempertanyakan alasan peraturan mengenai anggaran.

Dokumen untuk Uni Eropa yang dipersiapkan oleh kepresidenan Finlandia, menyatakan bahwa saat aturan asli memiliki satu-satunya tujuan untuk memastikan moneter pemerintah yang sehat dan berkelanjutan, di satu sisi banyak penekanan yang diberikan oleh sejumlah pihak terhadap peran kebijakan fiskal dalam upaya stabilisasi ekonomi di kawasan tersebut.

Pada kesempatan terpisah di hari Selasa kemarin, Presiden yang ditunjuk oleh Komisi Eropa, Ursula Von Der Leyen telah mendelegasikan portofolio ekonomi dalam jajaran eksekutif baru kepada mantan perdana menteri Italia dari sayap kiri, Paolo Gentiloni dalam sebuah langkah yang dilihat oleh sejumlah pengamat sebagai langkah menuju pelonggaran fiskal.

Dokumen tersebut akan mengarahkan deat tentang reformasi peraturan fiskal yang akan diadakan oleh para menteri moneter Uni Eropa di Helsinki pada akhir pekan ini. Kebijakan interest rate negatif dan stimulus keuangan selama bertahun-tahun, telah menghilangkan risiko bagi kelangsungan hidup Eurozone, namun dinilai gagal untuk menambah inflasi dan pertumbuhan di kawasan tersebut secara memadai.

Berdasarkan ketentuan yang ada, komisi eksekutif Uni Eropa diharuskan menilai kembali aturan fiskal pada akhir tahun ini. Mungkin untuk saat ini hasilnya akan berbeda dikarenakan Jerman sebagai negara motor ekonomi di kawasan tersebut, tengah berada di ambang resesi menyusul para pejabat di Berlin secara terbuka menunjukkan bahwa mereka dapat memompa uang ke dalam ekonominya guna melawan setiap perlambatan yang signifikan.

Pada tahun lalu Dewan Fiskal Eropa, sebuah badan yang memberikannasihar mengenai peraturan anggaran, mengatakan bahwa peraturan fiskal yang mengharuskan negara anggota Eurozone untuk tetap menjaga defisit di bawah 3% dari output dan secara bertahap harus membawa posisi hutang di bawah 60%, dinilai sangat rumit.

Penunjukan Gentiloni mengejutkan bagi mereka yang mencari lebih banyak disiplin fiskal, karena perbedaan peraturan anggaran dengan Roma telah membesar sejak komisi Eropa mengeluarkan mandat lima tahunannya.

Akan tetapi dalam tindakannya untuk menyeimbangkan dengan seksama, Von Der Leyen telah mengkonfirmasi di bawah kepemimpinan kebijakan ekonomi eksekutif dari mantan Perdana Menteri Latvia, Valdis Dombrovskis, yang diketahui memiliki reputasi sebagai penegak disiplin fiskal yang tangguh.(WD)