Trump Menginginkan Nilai Tukar Dollar Yang Lebih Rendah Dari Saat Ini

Pada awal bulan ini Presiden AS Donald Trump menginginkan nilai tukar Dollar yang lebih rendah dari saat ini, sebagai upaya bagi AS untuk menyamai apa yang disebutnya sebagai usaha dari negara-negara lainnya untuk melemahkan mata uang mereka sendiri sehingga akan memberikan keuntungan perdagangan yang dinilai tidak adil.

Komentar tersebut menimbulkan spekulasi di pasar bahwa pihak pemerintahan Trump dapat melakukan tekanan jual terhadap Dollar, yang saat ini bergerak di dekat level tertinggi multi dekadenya dan setidaknya 6% lebih kuat dari yang dijamin oleh fundamental ekonomi menurut IMF.

Nilai tukar Dollar yang lebih lemah dapat membantu sektor bisnis AS bersaing secara global dengan membuat ekspor lebih murah, meningkatkan ekonomi serta berpotensi membantu tawaran Trump untuk kembali terpilih sebagai presiden di tahun 2020 mendatang.

Akan tetapi tindakan intervensi terhadap nilai tukar mata uang dapat memicu terjadinya “pushback” dari negara lain, sehingga membahayakan posisi Dollar sebagai mata uang cadangan dunia yang sekaligus juga kemampuan mata uang tersebut untuk mengatasi gejolak di pasar.

Untuk melemahkan nilai tukar Dollar lebih lanjut, Departemen Keuangan AS dapat menjual greenback untuk membeli mata uang asing serta menggunakan Dollar yang disimpan sebagai cadangan. Saat ini sebagian besar cadangan mata uang Dollar senilai $126 milliar, berada di Exchange Stabilization Fund (ESF), namun jika Washington melakukan tindakan secara sepihak, maka hal ini dapat memicu terjadinya currencies war dan kemungkinan AS tidak mempunyai cukup amunisi untuk memenangkannya.

Sebagai perbandingan, Cina memiliki cadangan $3.1 triliun dan sekitar $5 triliun diperdagangkan di pasar mata uang dunia setiap hari.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa ESF dimaksudkan untuk meminimalkan tekanan di pasar mata uang, yang mana ini mungkin mengindikasikan bahwa Washington tidak melihatnya sebagai cara untuk merekayasa pelemahan nilai tukar greenback secara lebih luas. Untuk melakukan intervensi yang lebih berat,

Departemen Keuangan dapat membutuhkan sumber daya dari Federal Reserve, yang berpotensi menghasilkan Dollar tanpa batas untuk dijual. Pelemahan Dollar dinilai dapat membuat impor ke AS menjadi lebih mahal dan sekaligus membantu The Fed dengan mendorong inflasi ke arah target 2% dari bank sentral.

Namun begitu campur tangan di pasar valuta asing untuk membuat nilai tukar lebih rendah akan sangat bertentangan dengan perjanjian antara sejumlah menteri keuangan dan bank sentral di dunia pada tahun 2013 silam.(WD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here