Tingkat Produksi US Shale Oil Diharapkan Naik Di Tahun Ini

Tingkat Produksi US Shale Oil Diharapkan Naik Di Tahun Ini
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Pertumbuhan produksi minyak shale AS yang jauh lebih lambat di tahun lalu serta prospek yang tinggi dari negara produsen minyak utama dunia, telah memberikan isyarat tercipatnya era baru pengekangan untuk industri shale oil AS.

Pengurangan, pengeluaran serta penurunan produksi yang biasa terjadi pada aktifitas sumur pengeboran shale oil AS, diperkirakan akan sedikit teredam dari laju penurunan di 2019 lalu, sehingga dinilai mampu mendorong produksi domestik mereka hingga melampaui 13 juta barrel per hari.

Sejumlah analis memperkirakan untuk tahun ini bahwa laju pertumbuhan produksi akan mengalami perlambatan, bahkan berpotensi hingga menyentuh level 100 ribu barrel per hari.

Selama satu dekade terakhir, revolusi shale oil telah mengubah AS menjadi produsen minyak mentah terbesar di dunia serta menjelma menjadi kekuatan dalam laju ekspor energi. Namun demikian revolusi tersebut tidak diterjemahkan dalam harga saham yang lebih tinggi.

Seperti yang terlihat di pergerakan saham-saham sektor energi dari indeks S&P500 yang hanya mencatat kenaikan 6% untuk dekade ini, jauh lebih rendah dari pengembalian sebesar 180% ke pasar saham yang lebih luas. Ekspansi minyak selama satu dekade gagal meningkatkan laba, yang telah membuat para investor merasa kecil hati.

Industri shale oil sempat mendapatkan imbas dari perang harga OPEC yang dimulai sejak 2014 lalu, yang mengirimkan harga minyak mentah AS di bawah $30 per barrel. Produksi untuk sementara ini mengalami perlambatan, namun dipercepat hingga akhir dekade saat perusahaan memangkas biaya dan tumbuh lebih efisien.

Namun saat ini dengan tingkat pengembalian investor yang lesu, industri tersebut tidak lagi percaya bahwa harga akan naik ke level yang lebih tinggi.

Chief Executive Officer Parsley Energy, Matt Gallagher mengatakan bahwa belanja produsen shale oil di tahun ini akan mengalami penurunan sekitar 15% dan tidak akan naik bahkan jika harga minyak berjangka mengalami kenaikan, akan tetapi sebaliknya akan menggunakan tingkat pengembalian yang lebih tinggi untuk membayar hutang.

Untuk itu pihaknya harus menjadikan bisnis ini menjadi lebih kompetitif serta menguntungkan, dan tidak hanya memulihkan sumber daya dengan segala cara. Analis saat ini memperkirakan minyak mentah AS rata-rata sekitar $58 per barrel pada tahun 2020, yang akan mewakili penurunan moderat dari level saat ini.

Para analis mengatakan bahwa hal itu tidak akan memacu percepatan produksi lain akibat tekanan untuk tingkat pengembalian, bahkan jika harga minyak tetap berada di atas $60 per barrel di tahun ini.

Ketika prospek shale mendingin, satu-satunya produsen minyak yang mempertahankan tingkat pertumbuhan Permian tahunan mendekati 40% adalah raksasa Exxon Mobil Corp dan Chevron Corp serta beberapa operator swasta, kata Artem Abramov yang menjabat sebagai kepala penelitian shale di konsultan energi Rystad.

Morgan Stanley mencatat pada awal Desember bahwa pertumbuhan output perusahaan shale yang diperdagangkan secara publik hanya 460 ribu barrel per hari selama 12 bulan yang berakhir pada bulan September, dibandingkan dengan 13 juta barrel per hari selama 12 bulan sebelumnya.(

Gulir ke Atas