• 27 Februari 2020

The Fed Diperkirakan Tetap Mempertahankan Kebijakan Moneter Saat Ini

Para pelaku pasar dan investor tengah menantikan FOMC Statement pada dinihari nanti guna mendapat kesimpulan pertemuan kebijakan The fed terbaru, dengan kemungkinan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun demikian para pejabat pengambil kebijakan sepertinya akan membahas kemungkinan perubahan mekanisme mereka mengelola suku bunga pinjaman utama bank sentral.

Sejak melakukan pemangkasan suku bunga untuk ketiga kalinya di bulan Oktober lalu, para pembuat kebijakan telah sepakat untuk mempertahankan target kebijakan suku bunga mereka di kisaran 1.50% hingga 1.75% sampai dengan mereka mampu mendapatkan bukti-bukti yang signifikan dalam prospek ekonomi AS.

Beberapa risiko mungkin telah meningkat, menyusul pertumbuhan ekonomi China saat ini yang menjadi sorotan setelah wabah virus Corona, dan ini terlihat dari turunnya yield obligasi AS.

Selain itu tekanan dari Presiden AS Donald Trump mengulangi seruaannya terhadap suku bunga yang lebih rendah. Trump mengecam The Fed dan pemimpin Jerome Powell sejak tahun 2018, karena mempertahankan kebijakan moneter yang dinilai terlalu ketat.

Para investor telah meningkatkan taruhan mereka bahwa The Fed akan menerapkan kebijakan pemangkasan suku bunga setidaknya satu kali di tahun ini.

Akan tetapi sekitar 95 dari 108 ekonom dalam survei Reuters yang memperkirakan The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga pertemuan pekan ini, dan analis JPMorgan Michael Feroli mengatakan bahwa kemungkinan pertemuan pekan ini menjadi salah satu yang pertemuan yang tidak penting dalam beberapa tahun terakhir, mengingat beliau menilai bahwa hasil pertemuan nanti sudah bisa diprediksi hasilnya.

The Fed diperkirakan akan segera memutuskan berapa lama lagi akan melanjutkan program pembelian obligasi Treasury AS senilai $60 milliar per bulan, bagaimana hasil program tersebut selama ini dan langkah apakah yang akan diambil untuk mengganti program tersebut untuk perbaikan jangka panjang guna menentukan langkah jangka pendeknya.

Dengan memompa likuiditas ekstra ke dalam sistem perbankan setiap bulannya, telah memungkinkan bank sentral AS untuk mempertahankan suku bunga jangka pendeknya tetap dalam kisaran target mereka, sekaligus mengatasi masalah yang muncul saat terjadi kekurangan cadangan bank yang menyebabkan terjadinya lonjakan.

Beberapa pembuat kebijakan lebih suka bank sentral memiliki neraca yang lebih kecil jika hal tersebut memungkinkan.

Akan tetapi hal ini justru menciptakan kesan bahwa The Fed tengah terlibat dengan bentuk pelonggaran kuantitatif yang dilakukan mereka saat harus menopang perekonomian di tengah resesi 2007-2009 silam.

Dalam penyesuaian terkaitnya, The Fed mungkin juga meningkatkan interest yang harus dibayar setiap bank sebagai cadangannya hingga lima basis poin, sebagai upaya untuk menjaga suku bunga The Fed berada dekat target kebijakannya untuk saat ini.(