Surplus Perdagangan Australia Mencetak Rekor Tertingginya

Surplus perdagangan Australia di bulan Juni dilaporkan semakin besar hingga ke level tertingginya dalam sejarah, dan kemungkinan besar akan membawa neraca berjalan negara tersebut mengalami surplus untuk yang pertama kalinya sejak periode 1970-an.

Penguatan ekspor sumber daya yang berkelanjutan telah memberikan kontribusi yang penting bagi kegiatan ekonomi di periode kuartal kedua, sehingga mampu membantu mengimbangi laju pengeluaran rumah tangga yang lemah.

Salah seorang ekonom di Capital Economics, Ben Udy mengatakan bahwa jika mengingat lemahnya ekonomi domestik Australia akhir-akhir ini, laju perdagangan bersih berpotensi menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan Produk Domestik Bruto di kuartal kedua, dan memberikan harapan di tengah prospek domestik yang suram.

Hal ini juga memungkinkan Reserve Bank of Australia memutuskan apakah akan melonggarkan kebijakan moneternya lebih lanjut. Para investor berasumsi bahwa bank sentral akan tetap mempertahankan suku bunga di 1% setelah penurunan di bulan Juni dan Juli, namun juga bertaruh bahwa pelonggaran lebih lanjut tidak dapat dihindari mengingat risiko terhadap melambatnya pertumbuhan global akibat dari meningkatnya sengketa perdagangan AS-Cina.

Biro Statistik Australia melaporkan surplus perdagangan melonjak 30% menjadi A$ 8 milliar ($ 5.43 milliar) di bulan Juni, jauh diatas perkiraan analis sebesar A$ 6 milliar. Laju ekspor naik 1% seiring harga bijih besi yang naik ke level tinggi dan bangkitnya laju pengiriman batubara.

Harga bijih besi telah mengalami lonjakan di tahun ini akibat gangguan pasokan yang melanda pengiriman dari Brasil dan kebijakan stimulus dari pemerintah Beijing untuk mendukung laju permintaan produk baja. Namun demikian ada sisi negatif bahwa penurunan impor sebesar 4% menunjukkan lemahnya konsumsi dan investasi domestik.

Surplus selama kuartal kedua secara keseluruhan mengalami kenaikan lebih dari A$ 5 milliar menjadi mencatat rekornya di angka A$ 19.8 milliar.

Andrew Hanlan selaku ekonom di Westpac mengatakan bahwa hal ini membuka kemungkinan terjadinya surplus neraca berjalan selama kuartal kedua, dan jika surplus ini terjadi maka akan tercatat menjadi yang pertama kalinya sejak kuartal kedua di tahun 1975.

Dengan demikian hasil tersebut pada dasarnya akan membuat ekonomi Australia menjadi kurang mengandalkan tabungan luar negeri dan akan lebih banyak mendanai konsumsi dan laju investasi sebagai penyangga yang bermanfaat saat terjadinya tekanan di pasar.(WD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini