Surplus Neraca Berjalan Jepang Mengalami Penurunan

Surplus neraca berjalan Jepang dilaporkan mengalami penurunan dari tahun sebelumnya di periode paruh pertama tahun ini, akibat lesunya laju ekspor ke pasar di kawasan Asia menyusul ketegangan perdagangan yang tengah berlangsung antara AS dan Cina.

Sebagai salah satu alat pengukur perdagangan internasional secara luas, surplus neraca berjalan Jepang berada di angka ¥10.47 triliun ($98.73 miliar), atau turun sebesar 4.2% dari periode yang sama di tahun sebelumnya. Diantara komponen-komponen utama perekonomian, surplus perdagangan barang Jepang dilaporkan anjlok 87.4% menjadi ¥224.2 milliar, akibat dari penurunan tajam di ekspor peralatan manufaktur semikonduktor ke Korea Selatan, produk baja dan suku cadang otomotif ke pasar Cina selama periode Januari hingga Juni.

Saat pemerintah Jepang memutuskan untuk meninjau perlakuan perdagangan preferensial Korea Selatan pada bulan Juli lalu, dampaknya tidak tercermin dalam periode pelaporan oleh Kementerian Keuangan Jepang.

Dilaporkan bahwa laju ekspor turun 5.2% dari tahun sebelumnya menjadi ¥37.95 triliun dan impor juga turun 1.4% menjadi ¥37.73 triliun. Sementara untuk laju pendapatan utama yang memberikan cerminan pengembalian investasi luar negeri, mencatat surplus sebesar ¥10.59 triliun, hanya mencatat kenaikan tipis sebesar 0.2% untuk menandai hasil tertinggi kedua.

Untuk perdagangan jasa yang meliputi pengiriman kargo dan transportasi penumpang, mencatat surplus untuk pertama kalinya di periode paruh pertama tahun ini hingga mencapai ¥231.6 miliar, seiring dukungan dari peningkatan jumlah pengunjung dari luar negeri serta penurunan biaya penelitian dan pengembangan di pangkalan perusahaan asing di Jepang.

Selama periode bulan Juni pemerintah Jepang telah melaporkan surplus neraca berjalan sebesar ¥1.21 triliun, menandai hasil yang solid selama 60 bulan secara beruntun. Mematahkan hasil survei terhadap 19 lembaga penelitian yang dilakukan oleh Jiji Press, yang memperkirakan surplus sebesar ¥1.18 triliun.

Perdagangan barang hanya berhasil mencatat surplus sebesar ¥759.3 miliar, atau mencatat penurunan sebesar 7.8% dari periode yang sama di tahun sebelumnya. Sedangkan perdagangan jasa mengalami surplus ¥50.,9 miliar, dan pendapatan utama melihat surplus ¥427.3 miliar.(WD)

Ardian Karen

Read Previous

Cina Mengabaikan Sanksi AS Terhadap Ekspor Minyak Mentah Iran

Read Next

Yen Terdukung Kekhawatiran Pertumbuhan Global

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *