Suasana Positif Pasar Mendukung Kenaikan Harga Minyak

Harga minyak mentah berjangka naik lebih dari $1 per barel di sesi perdagangan hari ini seiring penurunan produksi dari negara produsen utama Minyak, serta adanya tanda-tanda pemuluhan secara bertahap dalam laju permintaan di tengah melonggarnya kebijakan lockdown untuk mencegah pandemi Covid-19, menyusul minyak mentah AS tidak menunjukkan tanda-tanda yang memuat penurunan terhadap kontrak bulan lalu.

Stephen Innes yang menjabat sebagai kepala strategi pasar global di AxiCorp dalam sebuah catatannya, mengatakan bahwa harga minyak mungkin menunjukkan momentum kenaikannya lebih lanjut seiring pelonggaran kebijakan pembatasan mobilitas yang terus tumbuh. yang mengacu pada pembataan yang dirancang untuk melawan Covid-19.

Minyak jenis West Texas Intermediate untuk kontrak Juni akan berakhir Selasa besok, namun ada sedikit indikasi bahwa minyak WTI akan kembali mengulangi penurunan bersejarahnya di bawah nol yang tercatat pada bulan lalu saat berakhirnya kontrak bulan Mei, di tengah tanda-tanda bahwa permintaan untuk minyak mentah dan bahan bakar berhasil pulih dari titik nadirnya.

Penurunan produksi minyak disebabkan juga oleh perusahaan-perusahaan energi AS yang memangkas jumlah rig pengeboran minyak dan gas bumi yang masih aktif beroperasi hingga ke level terendahnya sepanjang masa dalam dua pekan berturut-turut.

Hal tersebut setidaknya membantu meredakan kekhawatiran mengenai habisnya ruang untuk level pengiriman kontrak WTI di Cushing, Oklahoma. Chicago Mercantile Exchange yang menjadi tempat berkumpulnya broker dan tempat perdagangan untuk produk WTI futures serta United States Oil Fund LP, produk pertukaran-perdagangan terbesar yang berfokus pada minyak di negara ini, telah mengambil langkah-langkah yang mengurangi posisi terbuka bagi kontrak WTI yang telah expired.

Selain itu suasana positif juga diperkuat ketika Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengeluarkan pandangan yang optimis bagi laju pemulihan ekonomi AS di tahun ini.

Dalam siaran persnya pada Minggu malam lalu, Powell mengatakan bahwa dengan asumsi tidak adanya gelombang kedua dari pandemi virus corona, dirinya akan melihat perekonomian akan terus pulih di paruh kedua tahun ini.

Kebijakan pengurangan produksi oleh OPEC dan negara produsen sekutunya, termasuk Rusia, yang lebih dikenal dengan OPEC+, menjadi faktor utama yang memberikan dukungan bagi kenaikan harga minyak.

Surat kabar Kuwait Al Rai melaporkan pada hari Sabtu lalu bahwa Kuwait dan Arab Saudi telah sepakat untuk menghentikan produksi minyak dari ladang pengeboran minyak bersama di Al-Khafji selama satu bulan yang akan dimulai pada 1 Juni mendatang.

Eurasia Group memperkirakan pengurangan pasokan yang signifikan akan dipertahankan hingga tahun 2021 karena permintaan minyak hanya meningkat secara perlahan.(