Setelah 30 Tahun, Australia Masuk Jurang Resesi

Setelah 30 Tahun, Australia Masuk Jurang Resesi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Ekonomi Australia mengalami kontraksi pada kuartal pertama tahun ini sebagai dampak dari pandemi COVID-19. Ini menunjukkan bahwa Negeri Kanguru ini tengah bersiap-siap mengakhiri masa ekonomi tanpa resesi yang sudah bertahan hampir 29 tahun.

Berdasarkan data The Reserve Bank of Australia (RBA) yang dikutip Bloomberg, Rabu (3/6/2020), PDB Australia turun 0,3% dari periode kuartal IV 2019. Ini merupakan penurunan pertama dalam satu kuartal sejak tahun 2011.

Kontraksi ekonomi Australia ini terjadi akibat anjloknya konsumsi rumah tangga. Para ekonom sebelumnya telah memprediksi ekonomi Australia akan turun 0,4%. Sementara dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, PDB negara ini masih tumbuh 1,4% atau masih sesuai dengan perkiraan.

Hasil tersebut juga mengakhiri kondisi ekonomi Australia yang bebas resesi setelah berhasil terhindar dari dampak krisis keuangan ASia pada tahun 1998 dan krisis tahun 2008 akibat gelembung di sektor properti di Amerika Serikat (AS).

Pada kuartal berikutnya, kontraksi ekonomi Australia diperkirakan akan semakin dalam. Pasalnya, sudah hampir 600.000 orang di negara itu kehilangan pekerjaan hanya di bulan April saja dan sebagian besar kegiatan ekonomi terkunci di tengah pandami COVID-19.

Menteri Keuangan Australia Josh Frydenberg mengakui bahwa saat ini ekonomi negara itu sudah memasuki resesi.

“Jawabannya adalah ya (resesi). Itu berdasarkan saran yang saya terima dari Departemen Keuangan terkait proyeksi di kuartal yang berakhir di bulan Juni,” katanya.

Kebijakan fiskal dan moneter di negara tersebut juga telah disesuaikan.

The Reserve Bank of Australia telah menurunkan biaya pinjaman dengan target imbal hasil obligasi sebesar 0,25%. Selain itu, pemerintah Australia juga telah menyuntikkan miliaran dollar untuk membantu pasang surut bisnis dan konsumsi rumah tangga.

Semua pihak saat ini masih terus mempertanyakan seberapa cepat bisnis bisa bangkit kembali setelah krisis kesehatan akibat COVID-19 terkendali yang memungkinkan kegiatan usaha bisa dilanjutkan lagi.

Apakah setelah lockdown dilonggarkan, para pekerja bisa mendapatkan kembali pekerjaannya dan apakah konsumsi rumah tangga bisa meningkat? Callam Pickering, ekonom di situs kerja global Indeed Inc, memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan mulai terjadi pada kuartal III. Namun, dampak COVID-19 pasti akan memberikan bayangan panjang dan berlarut-larut atas ekonomi global dan pemulihan Australia.

“Dukungan berkelanjutan dari kebijakan fiskal dan moneter akan diperlukan sepanjang 2020 dan seterusnya.” katanya. Naiknya harga komoditas meningkatkan profitabilitas penambang, dengan ketentuan perdagangan 2,9% lebih tinggi dalam tiga bulan pertama tahun 2020, mendorong surplus neraca berjalan ke rekor AUD 8,4 miliar ($5,8 miliar).

Namun, para penambang akan terus mengawasi mata uang negara, yang telah melonjak hampir 20% dalam dua setengah bulan terakhir.

“Biasanya, rilis akun nasional yang tampak terbelakang berisi serangkaian tren tersembunyi yang sering diabaikan. Investasi pertambangan telah naik ke level tertinggi 7-tahun, ketentuan perdagangan Australia telah meningkat dan niat eksplorasi meningkat. Ini pertanda baik untuk pemulihan. ” tambah Pickering.

Prospek ekonomi membaik ketika pembatasan dicabut, tetapi akan terus dibatasi oleh perbatasan tertutup yang memukul ekspor pariwisata dan pendidikan. Pemerintah sedang mendiskusikan putaran baru stimulus fiskal untuk mencoba mengembalikan pembangunan perumahan.

Gulir ke Atas