• 21 Januari 2020

Sektor Rumah Tangga Jepang Memangkas Pengeluarannya

Sektor rumah tangga Jepang telah memangkas laju pengeluaran mereka untuk pertama kalinya dalam hampir setahun terakhir pada bulan Oktober, seiring kenaikan pajak penjualan yang mendorong konsumen untuk mengendalikan pengeluaran mereka, serta ditambah dengan dampak bencana alam yang telah menganggu aktifitas bisnis di negara tersebut.

Tingkat pengeluaran rumah tangga mencatat penurunan sebesar 5.1% di bulan Oktober dari tahun sebelumnya, yang mana ini merupakan penurunan untuk pertama kalinya dalam 11 bulan terakhir serta tercatat sebagai penurunan terbesarnya sejak Maret 2016 silam disaat tingkat belanja turun 5.3%.

Angka ini menandai pembalikan tajam setelah sebelumnya mengalami lonjakan 9.5% di bulan September, yang mencatat pertumbuhan tercepat seiring para konsumen yang bergegas membeli barang sebelum diterapkannya kenaikan pajak penjualan.

Taro Saito selaku peneliti eksekutif di NLI Research Institute, mengatakan bahwa tidak hanya kenaikan pajak penjualan yang menimbulkan tekanan terhadap pengeluaran konsumen, namun dampak dari bencana Topan turut mempercepat penurunan laju pengeluaran.

Lebih lanjut Saito mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan bahwa ekonomi secara keselurhhan dan belanja konsumen akan mengalami kontraksi di kuartal terakhir tahun ini, yang kemudian akan mencatat kenaikan secara moderat di periode Januari-Maret tahun depan, namun demikian pemulihan ini dinilai belum cukup kuat sebagai faktor pendorong pertumbuhan ekonomi.

Pengeluaran rumah tangga turun 4,6% pada April 2014 ketika Jepang terakhir menaikkan pajak penjualan menjadi 8% dari 5%, dan butuh waktu lebih dari satu tahun bagi sektor ini untuk kembali ke pertumbuhan. Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, laju pengeluaran rumah tangga mengalami penurunan sebesar 11.5% di bulan Oktober, yang merupakan penurunan tercepat sejak April 2014 silam dan turun lebih cepat dari perkiraan analis di angka 9.8%.

Kalangan analis menilai bahwa bencana angon topan di bulan Oktober lalu, yang menyerang sebagian besar wilayah Jepang, turut berperan penting bagi suramnya data tersebut, menyusul sejumlah toko dan restoran yang ditutup selama badai serta para konsumen yang memilih untuk tinggal di rumah.

Sementara itu upah riil yang disesuaikan dengan inflasi, mencatat kenaikan tipis dalam dua bulan beruntun di Oktober lalu, akan tetapi biaya pungutan yang lebih tinggi serta lemahnya ekonomi global telah meningkatkan kekhawatiran mengenai prospek pengeluaran konsumen dan ekonomi secara keseluruhan.

Pemerintah telah berupaya untuk mengimbangi tekanan terhadap konsumen dengan mengeluarkan voucher dan keringanan pajak, seiring adanya kekhawatiran bahwa pajak yang lebih tinggi dapat melukai ekonomi Jepang yang telah merasakan tekanan dari perlambatan global.

Pada hari Kamis kemarin pemerintah Jepang telah meluncurkan paket fiskal sebesar $122 milliar, yang dimaksudkan untuk mendukung pertumbuhan yang terhenti.

Serangkaian data ekonomi yang lemah baru-baru ini, seperti ekspor dan output pabrik, telah meningkatkan kekhawatiran terhadap risiko perlambatan yang lebih tajam dari yang diperkirakan.(