Sektor Bisnis Eurozone Mengalami Perlambatan

Pertumbuhan sektor bisnis Eurozone di bulan Juli melambat seiring lemahnya laju permintaan sehingga memberikan cerminan turunnya sektor manufaktur sehingga semakin mempengaruhi industri jasa yang mendominasi kawasan tersebut.

Pada bulan lalu European Central Bank telah berjanji untuk melonggarkan kebijakan lebih lanjut seiring prospek pertumbuhan di kawasan tersebut yang memburuk. IHS Markit’s Composite Final Purchasing Managers ‘Index (PMI) Index, yang biasa dianggap sebagai ukuran yang baik untuk kesehatan ekonomi secara keseluruhan, dilaporkan turun menjadi 51.5 di bulan Juli dari 52.2 pada bulan Juni sebelumnya.

Jack Allen-Reynolds dari Capital Economics, mengatakan bahwa secara lebih luas data tersebut bukanlah sebuah kejutan yang besar, seiring komposit PMI dibiarkan tanpa direvisi, yang mana meskipun tidak ada indikasi bahwa laju pertumbuhan memburuk namun masih cukup lemah.

Sepertinya pasar sedikit mengabaikan data PMI, namun sebaliknya justru terfokus pada meningkatnya eskalasi trade war antara AS dengan Cina yang mendorong mata uang Yuan jatuh hingga ke level terendahnya dalam lebih dari satu dekade di hari ini.

Hambatan yang datang dari meningkatnya tensi ketegangan antara AS-Cina, menjadi ancaman terbesar bagi pertumbuhan global dan telah melukai sektor produsen seiring data pada pekan lalu menunjukkan bahwa aktifitas pabrik di bulan Juli berada dalam laju tercepatnya dalam enam tahun.

Dari empat negara ekonomi terbesar di kawasan Eurozone, Italia menjadi satu-satunya negara yang mengalami kenaikan PMI, yang menawarkan sejumlah harapan pemulihan secara moderat. Namun demikian aktifitas di sektor swasta Jerman justru mencapai level terlemahnya dalam enam tahun terakhir, yang memberikan cerminan bahwa negara ekonomi terbesar di Eropa tersebut akan memulai kuartal ketiga dengan pijakan yang lemah.

Prospek yang lebih suram akibat pengaruh dari kekhawatiran terhadap trade war, melambatnya pertumbuhan penjualan serta ketidakpastian Brexit, lembaga IHS Markit mengatakan bahwa data PMI memberikan indikasi pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga yang hanya berkisar 0.1%, atau lebih lambat dari pertumbuhan 0.3% yang diperkirakan sebelumnya dalam sebuah jajak pendapat oleh Reuters pada bulan lalu.

Salah seorang ekonom di RBC mengatakan bahwa hasil survei yang buruk serta data yang tidak solid belakangan ini, serta ditambah meningkatnya eskalasi perselisihan perdagangan AS-Cina, yang kemungkinan besar akan membebani sentimen investor di kawasan Eurozone.(WD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini