Risk Currencies Menguat Seiring Transisi Pemerintah AS

Risk Currencies Menguat Seiring Transisi Pemerintah AS
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Menyusul Presiden Donald Trump yang telah menerima dimulainya transisi ke pemerintahan Joe Biden, yang diperkirakan akan memasukkan mantan Ketua Federal Reserve Janet Yellen sebagai menteri keuangan, telah memberikan dukungan bagi mata uang yang sensitif terhadap risiko untuk mencatat kenaikan di sesi perdagangan waktu Asia.

Trump mengizinkan kepala Administrasi Layanan Umum untuk melanjutkan transisi ke pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden terpilih Joe Biden meskipun ada rencana untuk melanjutkan tantangan hukum.

Sementara itu tim kampanye Biden dari Partai Demokrat mengatakan bahwa Yellen diperkirakan akan dinominasikan untuk menjadi Menteri Keuangan menggantikan Steven Mnuchin, sehingga hal ini membesarkan hati para investor karena Yellen dinilai telah menyerukan peningkatan pengeluaran pemerintah untuk mengangkat ekonomi keluar dari resesi yang disebabkan oleh pandemi virus corona.

Kepala ekonom keuangan di MUFG Union Bank di New York, Chris Rupkey mengatakan bahwa satu hal yang pasti dan tidak mungkin terjadi adanya banyaknya perselisihan antara The Fed dengan Treasury, yang mana fasilitas pinjaman The Fed untuk pendanaan kota, pasar obligasi korporasi dan Main Street akan segera kembali diterapkan setelah pada 31 Desember nanti akan kadaluwarsa.

Pada pekan lalu Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin membiarkan beberapa program pinjaman The Fed berakhir pada akhir tahun ini, namun dinilai telah membuka perselisihan dengan The Fed, dengan mengatakan bahwa fasilitas darurat tersebut penting artinya untuk mendukung perekonomian.

Mata uang Aussie mencatat kenaikan 0.4%, sementara mata uang emerging markets seperti Peso Meksiko dan Rand Afrika Selatan juga mencatat kenaikan sekitar 0.4%, sedangkan Dollar Selandia Baru mengalami lonjakan sebesar 0.9% ke level tertingginya dalam dua tahun terakhir, setelah pemerintah negara tersebut meminta saran dari Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) tentang bagaimana hal itu dapat membantu menstabilkan harga properti, sehingga mampu mendorong investor untuk melepas taruhan pelonggaran moneter lebih.

Greenback terpantau masih bertahan di kisaran yang lebih kuat terhadap safe haven Yen dan juga mata uang Euro, setelah data PMI sektor manufaktur dan jasa AS yang dirilis oleh IHS Markit berhasil mencatat kenaikan ke level tertinggi dari perkiraan yang paling optimis dalam jajak pendapat Reuters sebelumnya.

Hal ini dinilai oleh Kyosuke Suzuki selaku direktur forex di Societe Generale bahwa kekuatan nyata dari data AS telah menguntungkan nilai tukar Dollar, namun terlepas dari kenaikan terbaru maka tren penurunan Dollar kemungkinan akan terus berlanjut mengingat AS telah mengalami defisit fiskal dan perdagangan dalam jumlah yang sangat besar.

Selain itu daya tarik US Dollar sebagai safe haven juga mengalami tekanan setelah AstraZeneca semakin meningkatkan minat investor terhadap risiko dengan mengatakan vaksin COVID-19 bisa efektif hingga sekitar 90% dan akan bersiap untuk mengirimkan data ke otoritas di seluruh dunia yang memiliki kerangka kerja bersyarat atau telah mendapat persetujuan awal.

Sedangkan mata uang Poundsterling Inggris mampu bertahan di dekat level tertingginya dalam 12 pekan terakhir terhadap greenback dan mencatat level tertinggi enam bulan terhadap Euro, seiring dukungan dari pertaruhan Inggris dan Uni Eropa yang akan mencapai kesepakatan perdagangan pasca Brexit.

Pertaruhan ini didasari oleh pihak London dan Brussel yang akan melanjutkan negosiasinya di pekan ini untuk menyetujui kesepakatan terkait hubungan perdagangan keduanya di masa depan, meskipun dalam tempo waktu yang sangat singkat karena periode transisi pasca Brexit Inggris akan berakhir dalam waktu kurang dari enam minggu kedepan.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id
logo topgrowth futures

Artikel Forex Lainnya

Gulir ke Atas