Reuter’s Poll : Poundsterling Berpotensi Mengalami Tekanan

Reuter’s Poll : Poundsterling Berpotensi Mengalami Tekanan
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Sebuah jajak pendapat dari Reuters mengemukakan bahwa mata uang Poundsterling yang saat ini mendekati level tertinggi lima bulan pada hari Rabu kemarin, diperkirakan akan kehilangan sebagian dari keuntungannya yang dicatat dalam beberapa sesi perdagangan sebelumnya, di tengah kekhawatiran terhadap Brexit dan pandemi virus corona sebelum mengalami pemulihan di tahun 2021 mendatang.

Mata uang Poundsterling mencatat kenaikan bulanan terbesar dalam lebih dari satu dekade pada bulan Juli lalu, meskipun nampaknya kenaikannya ini terutama disebabkan oleh melemahnya Greenback setelah terjadi lonjakan virus corona di AS serta kegelisahan terkait pemilihan presiden AS yang akan datang.

Namun demikian kekhawatiran terkait gelombang kedua infeksi corona di Inggris, yang sudah menjadi negara yang mengalami pukulan paling keras di Eropa, sehingga membatasi kenaikan nilai tukar Poundsterling menyusul hasil studi terbaru yang mengatakan bahwa pandemi gelombang kedua ini bisa dua kali lebih buruk dari pandemi pertama.

Selain itu terbatasnya pergerakan naik dari Poundsterling dikarenakan oleh ekonomi Inggris yang lemah serta tekanan yang meningkat untuk mencapai kesepakatan perdagangan Brexit sebelum periode transisi berakhir di bulan Desember mendatang, sehingga mendorong para pedagang dan investor untuk waspada terhadap prospek perdagangan Poundsterling.

Sebanyak lima ekonom dari sekitar 60 orang ahli strategi valas yang disurvei oleh Reuters, mengatakan bahwa Poundsterling akan turun ke kisaran $1.29 di bulan ini dan menjadi $1.28 dalam tiga bulan berikutnya, sebelum kembali ke level saat ini dalam waktu satu tahun ke depan.

Analis valas di Nomura, Jordan Rochester mengatakan bahwa penurunan ini sepertinya diakibatkan oleh ketidakpastian atas Brexit yang akan berlanjut hingga September atau Oktober, sehingga meskipun pihaknya lebih condong ke arah terjadinya kesepakatan, sehingga mereka masih akan menyesuaikan dengan perjanjian perdagangan baru dan kekacauan mengenai perjanjian perbatasan Brexit akan terlihat seperti yang sudah diramalkan.

Tanpa kesepakatan, hubungan perdagangan dan keuangan antara negara ekonomi terbesar kelima di dunia dan mitra dagang terbesarnya akan runtuh dalam semalam, sehingga menyebarkan malapetaka di antara pasar dan bisnis global.(

Gulir ke Atas