Reuter’s Poll : Penguatan US Dollar Masih Akan Berlanjut

Reuter’s Poll : Penguatan US Dollar Masih Akan Berlanjut

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters mengemukakan bahwa menguatnya nilai tukar mata uang US Dollar yang terus menerus dan sekaligus membingungkan pasar, nampaknya masih akan berlanjut hingga tahun depan, bahkan hal ini akan tetap terjadi meskipun sebagian kesepakatan pedagangan AS-Cina akan ditandatangani.

Harapan terbaru mengenai kedua negara yang akan mengambil langkah-langkah untuk mengakhiri perang dagang selama 16 bulan terakhir, telah memberikan dorongan bagi saham global untuk berada di level puncaknya, yang mana hal ini telah terlihat di pergerakan Wall Street yang telah mencapai nilai tertingginya sepanjang masa.

Meskipun para spekulan di pasar mata uang telah beralih ke sikap optimis serta sedikit mengurangi taruhan bullish mereka terhadap mata uang US Dollar sehingga nilai total posisi beli Dollar telah berada di level terendahnya dalam lebih dari dua bulan terakhir, akan tetapi tren jual terhadap Dollar diperkirakan tidak akan berlanjut.

Salah seorang ahli strategi mata uang senior di Rabobank, Jane Foley mengatakan bahwa dirinya merasa takut bahwa optimisme mengenai perdagangan AS-Cina tidak akan bertahan lama dan setidaknya pihaknya harus mengajukan pertanyaan mengenai fase kesepakatan perdagangan serta seberapa sulitnya untuk melewati sejumlah bagian yang kontroversial dari perselisihan dagang tersebut.

Foley juga menambahkan bahwa dirinya mengantisipasi untuk memiliki lebih banyak aksi risk aversion dan dapat mengambil perputaran pergerakan keluar dari pasar negara berkembang untuk kembali ke Dollar.

Hampir dua pertiga dari 56 analis yang menjawab pertanyaan tambahan, mengatakan bahwa dominasi Dollar masih akan berlanjut setidaknya hingga enam bulan kedepan, dan seperempatnya memperkirakan mata uang tersebut akan tetap kuat selama lebih dari dua tahun.

Hasil jajak pendapat saat ini sangat bertolak belakang dengan prediksi dari mayoritas analis di awal tahun ini, yang meyakini bahwa reli yang terjadi terhadap US Dollar telah berakhir.

Sementara itu Adam Cole selaku kepala strategi mata uang di RBC Capital Markets, mengatakan bahwa di tengah volatilitas global yang rendah dan hasil yang rendah, maka mata uang US Dollar masih menjadi mata uang dengan imbal hasil tertinggi di negara maju.

Lebih 40% dari 63 analis mengatakan bahwa indeks Dollar akan mengalami pelemahan sekitar 1% hingga 2%, jika perjanjian perdagangan fase pertama ditandatangani oleh AS dan Cina, dan hanya lima responden yang memperkirakan kerugian lebih dari 2%.

Sebanyak 15 analis mengatakan bahwa tidak akan ada perubahan material terhadap nilai tukar Dollar, sementara 16 analis mengatakan bahwa mata uang tersebut akan menguat sekitar 1% hingga 2% dan hanya satu orang responden yang memperkirakan Dollar akan naik lebih dari 2%.

Kinerja dolar yang lebih baik telah menyebabkan investor menumpuk lebih banyak taruhan demi greenback, menjadikannya salah satu perdagangan dengan volume terbesar di tahun ini.(

Deni Bahtera

Read Previous

Bursa Saham Melejit, Investor Ambil Untung Perdagangan Emas

Read Next

Produksi Industri Jerman Turun Melebihi Perkiraan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *