Reuter’s Poll : Korporasi Jepang Menilai Tidak Perlu Ada Pelonggaran Moneter

Sebuah survei oleh Reuters menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan Jepang menilai bahwa Bank of Japan tidak perlu untuk melakukan pelonggaran moneter lebih lanjut di tahun ini, meskipun muncul spekulasi bahwa bank sentral dapat melakukannya di bulan saat tekanan terhadap ekonomi Jepang mengalami peningkatan.

Tahun ini muncul harapan bahwa Bank of Japan dapat memperluas kebijakan stimulus besar-besaran saat ini untuk mengurangi dampak terhadap ekonomi Jepang yang bergantung kepada ekspor akibat dari trade war AS-Cina dan melemahnya permintaan global.

Disebutkan pula bahwa kenaikan nilai tukar mata uang Yen akibat dari pelonggaran moneter oleh bank sentral global utama lainnya, dinilai dapat memberikan dukungan bagi bank sentral Jepang untuk menerapkan kebijakan pelonggaran tambahan.

Sebelumnya dalam jajak pendapat Reuters terpisah lainnya di pekan ini, menunjukkan bahwa hampir seperlima ekonomi mengatakan bahwa BoJ dapat melakukan pelonggaran moneter segera setelah melakukan tinjauan pada akhir bulan ini, dengan catatan bahwa penurunan suku bunga The Fed yang diperkirakan pasar dapat memberikan dukungan bagi kenaikan tajam di mata uang Yen.

Namun demikian sebanyak 88% perusahaan di Jepang mengatakan bahwa tidak ada pelonggaran tambahan yang diperlkukan di tahun ini, sementara 12% lainnya menyerukan untuk mengeluarkan stimulus lebih banyak lagi.

Pelonggaran kebijakan moneter BoJ yang agresif selama bertahun-tahun telah memberikan dorongan bagi biaya pinjaman di bawah nol, sehingga memberikan tekanan terhadap margin bank serta hanya meninggalkan sedikit margin untuk menghadapi penurunan ekonomi.

Akan tetapi masih ada trigger berikutnya jika kebijakan pajak penjualan yang direncanakan naik di bulan Oktober yang berpotensi mengurangi pengeluaran konsumen atau jika pemangkasan suku bunga oleh sejumlah bank sentral dunia lainnya menimbulkan guncangan di pasar keuangan.

Takehiro Noguchi, ekonom senior di Mizuho Research Institute, mengatakan bahwa dirinya berharap BoJ akan menunggu untuk melihat dampak dari kenaikan pajak penjualan sebelum menilai apakah diperlukan untuk melakukan pelonggaran lebih lanjut.

Selain itu apresiasi nilai tukar Yen yang diakibatkan oleh friksi perdagangan AS atau penurunan suku bunga The Fed dan ECB dapat menjadi sebuah faktor risiko lainnya. Dan jika hal tersebut terjadi maka pasar tidak dapat mengesampingkan kemungkinan BoJ akan semakin memperdalam suku bunga negatifnya.

Hanya sebagian kecil kalangan yang mengatakan bahwa inflasi yang berjalan stagnan dapat membenarkan adanya pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut, seiring target inflasi 2% dari BoJ masih tetap jauh dari harapan, meskipun bank sentral menggelontorkan stimulus besar-besaran dalam lebih dari enam tahun di bawah kepemimpinan Haruhiko Kuroda.

Dalam survei tersebut dikatakan bahwa 32% perusahaan mengharapkan efek negatif yang mampu melebih dampak positif dari kenaikan pajak penjualan, sementara hanya 35 yang mengharapkan adanya efek positif dari kenaikan tersebut.

Namun jika kenaikan pajak dihapuskan maka sebanyak 21% ekonom mengatakan bahwa efek positif akan lebih besar dibanding efek negatif yang meungkin terjadi, sementara 10% justru mengantisipasi dampak negatif yang lebih besar.

Sedangkan sekitar dua pertiga mengatakan bahwa dampaknya akan netral meskipun pajak penjualan jadi atau tidak diterapkan oleh pemerintah Jepang.

Read Previous

Tingkat Pengangguran Australia Masih Berada Di 5.2% Pada Bulan Juni

Read Next

Indeks Harga Produsen Korea Selatan Mencatat Penurunan Di Bulan Juni

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *