Reuter’s Poll : Kenaikan Pajak Penjualan Akan Melukai Pertumbuhan Jepang

Reuter’s Poll : Kenaikan Pajak Penjualan Akan Melukai Pertumbuhan Jepang

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan Jepang berpandangan bahwa laju ekspansi terpanjang negara tersebut tengah mencapai puncaknya, namun dua pertiga dari mereka beranggapan bahwa kebijakan kenaikan pajak penjualan yang diberlakukan oleh PM Shinzo Abe di bulan ini akan melukai ekonomi negara tersebut.

Dalam survei bulanan terhadap sektor korporat oleh Reuters memberikan cerminan bahwa hampir semua perusahaan Jepang menilai bahwa ekonomi Jepang akan mengalami penurunan atau jatuh ke dalam jurang resesi dalam beberapa bulan mendatang, yang mana jika ini terjadi maka akan berarti ekspansi kebijakan Abenomics uamh dimulai sejak 2012 akan berakhir.

Sementara itu disebutkan bahwa sebagian besar perusahaan tidak menginginkan Bank of Japan untuk meningkatkan stimulusnya, meskipun perang perdagangan AS-Cina telah mengaburkan prospek pertumbuhan global dan pertumbuhan ekonomi Jepang yang sangat bergantung pada ekspor.

Sebelumnya Shinzo Abe mengatakan bahwa kenaikan pajak penjualan nasional, sangat penting artinya untuk mengekang beban hutang terberat yang dialami oleh sektor industri Jepang, yang mencatat lebih dari dua kali lipat output tahunan Jepang sebesar $5 triliun. Akan tetapi retribusi yang lebih tinggi dinilai akan melemahkan laju pengeluaran konsumen sekaligus memicu terjadinya resesi.

Dalam survei tersebut dipaparkan bahwa 69% perusahaan memperkirakan bahwa kenaikan pajak penjualan akan membebani pertumbuhan, sementara 26% tidak melihat dampak ke arah itu dan 5% sisanya berpikir bahwa hal tersebut dapat meningkatkan ekonomi Jepang.

Disebutkan pula bahwa sebanyak 58% memperkirakan ekonomi Jepang akan mengalami penurunan menjelang tahun depan, sementara 41% memperkirakan terjadinya resesi di waktu yang sama dan hanya sekitar 1% yang menilai adanya pertumbuhan ekonomi setelah berlakunya kenaikan pajak penjualan.

Yoshimasa Maruyama selaku kepala ekonom di SMBC Nikko Securities, mengatakan bahwa kombinasi dari penurunan permintaan pasca kenaikan pajak serta ditambah dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi global, jelas akan memberikan tekanan turun yang lebih besar terhadap ekonomi Jepang. Lebih lanjut beliau juga memperkirakan terjadinya resesi di Jepang, menyusul kontraksi ekonomi dalam dua kuartal hingga Maret lalu.

Sektor korporasi yang disurvei oleh Reuters tersebut, memperkirakan bahwa resesi setidaknya akan berlangsung dalam kurun waktu satu tahun, sementara sebagian lainnya memperkirakan bahwa ekonomi akan mencapai titik terendahnya di akhir tahun depan dan sisanya melihat penurunan ini akan berlangsung hingga 2021 atau lebih lama dari kurun waktu tersebut.

Haruhiko Kuroda yang ditunjuk oleh Shinzo Abe sebagai Gubernur Bank of Japan sejak enam setengah tahun yang lalu untuk memacu pertumbuhan sekaligus mengakhiri deflasi yang berlangsung selama 1 dekade, telah mendorong kebijakan pembelian aset paling agresif diantara bank sentral lainnya di dunia sehingga mendorong suku bunga dibawah nol persen.

Sebanyak 57% perusahaan dalam survei tersebut mengatakan bahwa seharusnya BoJ tidak memperluas pelonggaran secara besar-besaran, seiring banyak pihak yang khawatir bahwa hal tersebut akan melemahkan lembaga keuangan. Akan tetapi sebanyak 42% berpikir bahwa pelonggaran tambahan tidak akan berdampak pada perekonomian, sementara sisanya terbagi antara apakah lebih banyak stimulus akan membantu untuk menyeimbangkan atau justru melukai laju pertumbuhan.

Terkait potensi perkembangan yang positif terhadap tujuan Bank of Japan untuk meningkatkan harga, lebih dari dua pertiga perusahaan yang disurvei mengatakan bahwa mereka telah mampu meneruskan kenaikan pajak penjualan kepada konsumen di harga barang dan jasa mereka. Kenaikan pajak dinilai dapat mengikis daya beli konsumen sekaligus merugikan konsumsi swasta yang berkontribusi hingga 60% dari ekonomi Jepang, kecuali hal ini diimbangi oleh kenaikan upah yang signifikan.(WD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini