Reuter’s Poll : Harga Rumah AS Mengalami Kenaikan

Reuter’s Poll : Harga Rumah AS Mengalami Kenaikan
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters menyebutkan bahwa harga rumah AS akan berbanding terbalik dengan laju penurunan ekonomi saat ini seiring dukungan dari tingkat hipotek yang mencapai rekor rendahnya serta dibantu oleh terbatasnya pasokan rumah di negara tersebut.

Saat ini pasar perumahan AS yang tengah berada di episentrum krisis keuangan yang telah menyebabkan resesi global sebelumnya, diperkirakan akan tetap menjadi titik terang di tengah penurunan tajam akibat pandemi Covid-19 yang menimbulkan kekacauan terhadap ekonomi dunia.

Dalam jajak pendapat terhadap 40 akhli strategi perumahan, disebutkan bahwa harga rumah di AS akan mengalami kenaikan hingga 3.0% di tahun ini dan selanjutnya.

Pada tiga bulan lalu harga rumah diperkirakan akan mengalami kenaikan masing-masing 3.4% dan 3.2%, sehingga perkiraan ini dinilai cenderung stabil, mengingat bahwa ekonomi tengah mencatat rekor terburuknya dan laju pengangguran telah mengalami lonjakan ke tingkat yang belum pernah terlihat sejak Great Depression.

Brad Hunter selaku direktur pelaksana di perusahaan penasihat real estat RCLCO, mengatakan bahwa permintaan terhadap perumahan akan kembali secara dramatis dengan laporan permintaan yang kembali stabil di bulan Mei dan Juni dari para pembuat rumah di pasar perumahan AS, dan pengurangan harga sebagian besar akan terbatas pada bagian pasar yang lebih rendah.

Proyeksi dalam survei yang mengalahkan laju inflasi ini, dimana proyeksi median dari Federal Reserve memperkirakan laju inflasi konsumen sebesar 0.8% dan 1.6% di tahun ini, dirilis dengan tingkat hipotek yang berada di rekor terendahnya dan kurangnya pasokan rumah secara terus menerus.

Permintaan perumahan, yang sangat sensitif terhadap tingkat hipotek, telah terus menurun sejak November lalu, namun ata-rata tingkat hipotek 30-tahun mencapai titik terendah baru 3.3% bulan ini, sehingga memberikan dorongan bagi pembeli untuk mengunci suku bunga pinjaman murah.

Minimnya persediaan rumah yang telah mendukung laju pemulihan perumahan sejak 2012 silam, diperkirakan akan semakin menyempit setelah laju pembangunan terhenti saat diberlakukannya kebijakan lockdown ekonomi AS selama hampir dua bulan untuk mengurangi laju penyebaran virus corona.

Sebanyak 21 dari 34 analis atau sekitar lebih dari 60%, mengatakan bahwa pengembalian aktifitas pasar perumahan AS ke level sebelum terjadinya pandemi Covid-19 akan berlangsung secara bertahap.

Sementara delapan analis lainnya mengatakan bahwa laju perputaran akan berlangsung secara lebih cepat dan dua diantaranya mengatakan bahwa hal ini sudah berlangsung, sedangkan tiga analis lainnya mengatakan bahwa proses ini akan berjalan lambat dan panjang.

Terlepas dari aktivitas yang lemah, ancaman utama terhadap pasar perumahan AS adalah pengangguran, yang melonjak dari rekor terendah ke rekor tertinggi dalam beberapa bulan.

Ekonom senior di BMO Capital Markets, Sal Guatieri mengatakan bahwa satu-satunya faktor yang mendukung pasar perumahan adalah tingkat hipotek yang sangat rendah, namun sekali lagi dirinya tidak berpikir bahwa hal itu akan lebih dari proses kompensasi terhadap meningkatnya pengangguran dan kepercayaan konsumen yang relatif lemah.

Namun demikian hanya beberapa analis yang memperkirakan bahwa harga rumah akan jatuh di tahun ini, saat nilai properti mengalami anjlol lebih dari sepertiga, yang mana ini merupakan perbedaan mencolok dari apa yang terjadi saat krisis di tahun 2008 silam.

Lebih lanjut Guatieri menambahkan bahwa sejumlah kehilangan pekerjaan yang tidak proporsional terjadi di sektor dengan upah yang rendah, sehingga seharusnya pasar tidak melihat harga rumah akan mengalami kejatuhan hingga sebesar yang terjadi pada saat terjadinya Great Recession.

Dengan demikian Guatieri menyampaikan bahwa pihaknya akan mengantisipasi penurunan yang jauh lebih moderat ddi harga perumahan dan itu hanya jika diakibatkan oleh laju permintaan yang relatif lemah serta pasokan rumah yang juga rendah.(

Gulir ke Atas