Reuter’s Poll : Factory Output Jepang Turun

Reuter’s Poll : Factory Output Jepang Turun
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Sejumlah analis dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters memperkirakan bahwa output pabrik Jepang selama bulan Agustus akan mencatat penurunan, akibat sektor manufaktur negara tersebut yang mengalami gangguan rantai pasokan, menyusul kekurangan persediaan chip global serta penyebaran virus corona varian Delta di Asia Tenggara.

Selain itu disebutkan pula bahwa penjualan ritel Jepang kemungkinan juga akan mencatat penurunan di bulan yang sama setelah mampu menguat secara tajam di bulan Juli sebelumnya, yang mana hal ini akan menggarisbawahi kerapuhan konsumsi domestik serta menghancurkan harapan para pembuat kebijakan terhadap laju pemulihan ekonomi Jepang yang berbasis ekspor dari dampak pandemi yang semakin meluas.

Sementara sebuah data terpisah diperkirakan akan menunjukkan tingkat pengangguran akan naik tipis di bulan Agustus serta tingkat ketersediaan lapangan kerja sedikit berkurang, sehingga akan membebani belanja konsumen yang berkontribusi hingga lebih dari setengah ekonomi di Jepang.

Serangkaian data yang lemah ini akan menjadi sebuah tantangan yang akan dihadapi oleh pemimpin baru di Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa, sekaligus menjadi tantangan bagi perdana menteri yang baru untuk berjuang memerangi Covid-19 sembari menjaga ekonomi tetap mampu bertahan.

Hasil jajak pendapat tersebut memperkirakan bahwa data dari Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri diperkirakan menunjukkan output industri turun 0,5% pada Agustus dari bulan sebelumnya, dimana output pabrik akan mencatat penurunan dalam dua bulan berturut-turut meskipun berada dalam kecepatan yang lebih lambat dibandingkan bulan Juli sebelumnya yang mencatat penurunan sebesar 1.5%.

Laju pemulihan ekonomi Jepang hingga saat ini dipimpin oleh ekspor mobil serta barang modal, dan analis khawatir bahwa krisis pasokan di Asia Tenggara serta perlambatan ekonomi China akan merusak output serta permintaan ekspor, yang mana hal ini sekaligus juga akan mengancam gagalnya rebound ekonomi Jepang dari keterpurukan yang disebabkan oleh pandemi.

Terkait akan hal ini Takeshi Minami selaku kepala ekonom di Norinchukin Research Institute mengatakan bahwa produksi mobil masih tetap berada di bawah tekanan untuk penyesuaian serta terhentinya peningkatan ekonomi China dari dampak pandemi Covid-19.

Untuk penjualan ritel diperkirakan akan mengalami penurunan sebesar 1.0% di bulan Agustus dari periode yang sama di tahun sebelumnya, setelah mencatat pertumbuhan sebesar 2.4% di bulan Juli, yang disebabkan oleh hantaman terhadap aktifitas sektor jasa dari krisis virus corona hingga saat ini, sehingga hal ini akan menjadi penurunan dalam skala tahunan untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir.

Sedangkan tingkat pengangguran di negara ekonomi terbesar ketiga dunia tersebut, diperkirakan akan memburuk dengan mencatat sedikit kenaikan menjadi 2.9% di bulan Agustus dari 2.8% di bulan Juli sebelumnya, sementara itu rasio pekerjaan terhadap pencari kerja diproyeksikan sedikit berkurang menjadi 1.14 dari 1.15 di bulan sebelumnya.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id ~ Perusahaan Pialang Berjangka PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas