Reuter’s Poll : Ekspor Jepang Akan Melemah Hingga Dua Digit

Reuter’s Poll : Ekspor Jepang Akan Melemah Hingga Dua Digit
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Sebuah jajak pendapat dari Reuters memperkirakan bahwa ekspor Jepang untuk bulan Juli akan mencatat penurunan hingga dua digit, sehingga mencatat penurunan dalam lima bulan secara beruntun akibat pandemi virus corona yang menghantam laju permintaan global.

Hasil jajak pendapat tersebut juga menunjukkan pesanan terhadap produk mesin di bulan Juni naik untuk bulan kedua berturut-turut dan harga konsumen inti mungkin naik untuk pertama kalinya dalam empat bulan di bulan Juli.

Namun demikian para analis mengatakan bahwa laju permintaan global yang lemah dan pembatasan aktifitas bisnis di beberapa negara ekonomi utama dunia diakibatkan oleh kebangkitan kembali infeksi, sehingga menunjukkan bahwa pemulihan di Jepang sebagai negara ekonomi terbesar ketiga dunia tersebut kemungkinan hanya akan berjalan secara moderat.

Disebutkan bahwa laju ekspor Jepang untuk bulan Juli diproyeksikan turun hingga sebesar 21.0% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, masih lebih baik dari penurunan sebesar 26.2% pada bulan Juni sebelumnya.

Sementara untuk impor diperkirakan telah mengalami penurunan lebih tajam hingga sebesar 22.8% dibandingkan tahun sebelumnya, setelah mencatat penurunan sebesar 14.4 di bulan sebelumnya, sehingga mengakibatkan defisit perdagangan hingga sebesar 77.6 milliar Yen ($725.84 juta).

Terkait akan hasil jajak pendapat ini, Yusuke Shimoda yang menjabat sebagai ekonom senior di Japan Research Institute mengatakan bahwa dibukanya kembali kegiatan ekonomi global kemungkinan akan membantu ekspor Jepang keluar dari periode terburuk, namun laju pemulihan ekonomi global kemungkinan akan tetap berjalan secara moderat karena ketidakpastian terhadap penanganan pandemi virus corona sehingga ekspor kemungkinan akan jatuh di tingkat tahunan.

Selain itu jajak pendapat tersebut juga menunjukkan bahwa pesanan mesin, yang biasa dipakai indikator utama belanja modal, diperkirakan akan naik 2.0% di bulan Juni, setelah mencatat kenaikan 1.7% di bulan Mei sebelumnya.

Analis menilai bahwa dukungan bagi pesanan mesin inti disebabkan oleh dibukanya kembali sektor bisnis setelah mengalami penutupan dalam skala nasional, namun keuntungan perusahaan akan memburuk dan ketidakpastian prospek kemungkinan akan membatasi laju pemulihan.

Dalam jajak pendapat juga disebutkan bahwa indeks harga konsumen inti (Core CPI), yang mencakup produk minyak tetapi tidak termasuk harga makanan segar yang volatile, kemungkinan naik 0.1% pada Juli dari tahun sebelumnya, dibantu oleh kenaikan harga minyak dan beberapa pemulihan dalam permintaan konsumen.(

Gulir ke Atas