Reuter’s Poll : Ekonomi Cina Tumbuh Di Laju Terlemahnya

Reuter’s Poll : Ekonomi Cina Tumbuh Di Laju Terlemahnya
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi Cina di periode kuartal keempat kemungkinan akan berada di titik terlemahnya dalam hampir 30 tahun terakhir, karena laju permintaan domestik dan luar negeri yang tetap lambat, meskipun terlihat sejumlah perbaikan di akhir tahun menyusul meredanya ketegangan perdagangan dengan AS.

Pertumbuhan ekonomi Cina diperkirakan tumbuh sebesar 6.0% di periode Oktober-Desember lalu dari periode yang sama di tahun sebelumnya. Angka ini tidak berubah dari kecepatan pertumbuhan di kuartal sebelumnya, yang merupakan laju pertumbuhan paling lambatnya sejak 1992 silam.

Dalam jajak pendapat terhadap 65 analis, disebutkan bahwa ekonomi Cina tumbuh di kisaran antara 5.8% hingga 6.3% di kuartal terakhir tahun lalu. Laju pertumbuhan di tingkat triwulan kemungkinan akan tetap di 1.5% di periode tersebut, yang merupakan laju kecepatan yang sama seperti periode sebelumnya.

Data PDB yang lebih baik dari perkiraan tentunya dapat memberikan dukungan bagi harga saham, komoditas global serta sekaligus meningkatkan nilai tukar mata uang Yuan, yang saat ini telah menguat ke level tertinggi mulit-bulan pada Januari, di tengah optimisme terhadap kesepakatan perdagangan AS-Cina.

Ning Jizhe selaku kepala Biro Statistik Nasional mengatakan bahwa Cina diperkirakan akan mencapai target pertumbuhan tahunannya yaitu di kisaran 6% hingga 6.5% di tahun lalu.

Namun Kepala Ekonom di Enodo Economics, Diana Choyleva mengatakan bahwa perlu kiranya untuk melihat angka-angka tajuk resmi yang melampaui hambatan signifikan yang dihadapi oleh ekonomi, dan hal ini termasuk terhadap meningkatnya pengangguran, tekanan terhadap pengeluaran konsumen dan investasi swasta serta meningkatnya risiko keuangan di tengah kampanye pengurangan hutang dan pengurangan risiko yang memasuki fase kritis diantara meningkatnya tekanan dalam sistem keuangan.

Para pembuat kebijakan Cina telah berjanji untuk memberikan lebih banyak dukungan bagi ekonomi, sembari menghindari langkah-langkah kebijakan yang serupa dengan stimulus besar-besaran di masa lalu, yang mana hal tersebut telah menjebak tingkat pertumbuhan namun justru menimbulkan tingkat hutang yang lebih besar dalam waktu yang relatif cepat.

Beijing berencana untuk menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah sekitar 6% pada tahun 2020, akan tetapi hal ini bergantung pada peningkatan belanja infrastruktur negara guna menangkal perlambatan yang lebih tajam.

Dengan demikian para investor akan mengamati data aktifitas ekonomi di bulan Desember secara cermat, guna mendapatkan petunjuk mengenai berapa banyak momentum yang akan didapat selama tahun ini.

Pada awal bulan ini bank sentral Cina mengumumkan bahwa mereka akan memangkas jumlah uang tunai yang harus dimiliki oleh semua bank sebagai cadangan, yang mana pemangkasan ini merupakan yang kedelapan kalinya sejak awal tahun 2018 lalu, sebagai langkah untuk membebaskan lebih banyak dana guna menopang laju pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Para analis mengharapkan PBOC akan mengumumkan lebih banyak langkah pemotongan rasio persyaratan cadangan bank dan sekaligus memprediksi pengurangan lebih lanjut dalam suku bunga pinjaman satu tahun di negara tersebut.

Diperkirakan bahwa People’s Bank of China akan menurunkan rasio cadangan bank hingga 100 basis poin di akhir tahun ini, yang mana angka tersebut lebih besar dari 50 basis poin yang sebelumnya diumumkan pada awal tahun.(

Gulir ke Atas