Reuter’s Poll : BI Kemungkinan Mempertahankan Suku Bunga

Reuter’s Poll : BI Kemungkinan Mempertahankan Suku Bunga
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Reuters melakukan sebuah jajak pendapat terkait kebijakan Bank Indonesia, yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di rekor terendahnya, setelah gubernur BI berjanji untuk menjaga kebijakan moneter akomodatif untuk sementara waktu, menyusul laju inflasi yang tetap di bawah target serta peningkatan kasus Covid-19.

Seluruh ekonom yang disurvei oleh Reuters, menyatakan dengan suara bulatnya mengharapkan Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3.50% dalam empat pertemuan kebijakannya secara berturut-turut.

Sejumlah besar bank sentral di dunia telah mengisyaratkan untuk menerapkan langkah pelonggaran stimulus moneter mereka di era pandemi, seiring prospek pengurangan kebijakan pembelian obligasi dari Federal Reserve.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo telah berjanji untuk mempertahankan suku bunga di kisaran rendah serta likuiditas yang cukup hingga para pembuat kebijakan melihat adanya tekanan inflasi, yang diprediksi akan terjadi di awal tahun depan.

Lebih lanjut beliau juga mengatakan bahwa bank sentral harus siap menghadapi potensi pengetatan kebijakan moneter The Fed di tahun depan, sekaligus memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat berdampak pada kondisi pasar keuangan lokal.

Sementara itu Gareth Leather yang menjabat sebagai ekonom Capital Economics, mengatakan bahwa laju inflasi tidak menjadi fokus perhatian untuk saat ini, dimana tingkat inflasi tahunan Indonesia telah meningkat ke level tertingginya dalam 5 bulan terakhir di 1.68% pada bulan Mei lalu, namun masih tetap di bawah kisaran target BI di kisaran 2% hingga 4%.

Leather juga menyampaikan bahwa jika sebaliknya kekhawatiran utama bagi BI adalah prospek yang tidak pasti untuk pergerakan mata uang Rupiah, dan ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed yang lebih cepat dari perkiraan dapat menambah tekanan ke bawah terhadap mata uang Rupiah yang bergejolak.

Sebagai negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia telah mengalami kontraksi sebesar 0.74% di tingkat tahunan di periode Januari-Maret, setelah menyusut sebesar 2% pada tahun 2020 lalu akibat dampak pandemi, namun pemerintah mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan ekonomi akan keluar dari zona resesi di kuartal kedua.

Diketahui bahwa Bank Indonesia telah memangkas suku bunga hingga total sebesar 150 basis poin dan memompa likuiditas senilai lebih dari $ 50 milliar ke dalam sistem keuangan sejak dimulainya pandemi virus corona di tahun lalu.

Sedangkan ekonom ANZ Krystal Tan dalam sebuah catatan penelitiannya menulis bahwa pertumbuhan domestik dan dinamika inflasi telah menjamin akomodasi kebijakan yang berkelanjutan, serta menambahkan bahwa peningkatan kasus infeksi Covid-19 telah meningkatkan ketidakpastian.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id
PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas