Retail Sales Australia Mencatat Rebound

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Menyusul pencabutan kebijakan pembatasan di sejumlah wilayah di Australia, telah melepas sumbat minat belanja yang terpendam sejak lama sehingga melambungkan penjualan ritel di negeri kangguru tersebut, sekaligus menjadi bukti lebih lanjut yang memperlihatkan pemulihan ekonomi yang lebih cepat dari kondisi kemerosotan yang disebabkan pandemi.

Australian Bureau of Statistics merilis data yang menunjukkan penjualan ritel mengalami lonjakan hingga 4.9% di bulan Oktober senilai A$ 31.1 milliar ($ 22.31 milliar), yang memperpanjang kenaikan 1.7% di bulan September sebelumnya.

Angka tersebut hampir dua kali lipat dari perkiraan kenaikan 2.5% dari para pelaku pasar, seiring toko pakaian yang mampu mencatat keuntungan hampir 28%, department store yang berhasil meraih untung hingga 22% serta restoran yang meraup laba hingga 12% selama bulan Oktober lalu.

Dengan demikian kontribusi sektor ritel akan menyumbang hingga senilai A$360 milliar bagi pertumbuhan ekonomi Australia, yang mana Marcel Thieliant selaku ekonom senior di Capital Economics menilai bahwa belanja konsumen riil akan mampu bangkit kembali hingga 10% di kuartal ini, dan mampu mendekati level puncaknya yang dicapai sebelum pandemi Covid-19, dengan tingkat tabungan rumah tangga yang masih sangat tinggi maka konsumsi diperkirakan akan terus mengalami peningkatan pesat di tahun depan.

Hal ini terlihat dari tanda-tanda yang menunjukkan laju belanja konsumen yang royal secara terus berlanjut, menyusul tingkat vaksinasi nasional yang telah mencatat 86% dari total populasi, sehingga memungkinan Sidney dan Melbourne membuka kembali aktifitas ekonominya hampir tanpa adanya batasan.

Tingkat pengeluaran dari kartu yang dikeluarkan oleh bank selama bulan ini saja telah mencapai sekitar 10 poin persentase di atas level sebelum terjadinya pandemi, yang mana para pengecer online menandai dimulainya musim belanja Black Friday saat musim belanja Natal akan berada di puncaknya.

Sementara itu ekonom senior di Westpac, Matthew Hassan mengatakan bahwa dengan pembukaan kembali aktifitas ekonom hingga mencatat rebound, maka risiko kekurangan serta penundaan pengiriman telah mendorong warga Australia untuk berbelanja lebih awal, sehingga tingkat belanja di tahun ini tampaknya masih akan berada dalam kondisi yang lebih kuat.

Dengan demikian dorongan tersebut disambut baik oleh perekonomian Australia, mengingat bahwa konsumsi rumah tangga memiliki kontribusi sekitar 55% terhadap produk domestik bruto, setelah menjadi sektor yang paling menderita akibat kebijakan lockdown di periode kuartal ketiga lalu.

Analis di CBA memperkirakan ekonomi menyusut 3.5% pada kuartal tersebut, yang akan menjadi penurunan terbesar kedua dalam catatan, sementara Westpac telah meningkatkan perkiraannya menjadi kontraksi 2.5% dari prediksi sebelumnya penurunan 4.0%.

Mengenai hal ini Gareth Aird yang menjabat sebagai kepala ekonomi Australia di CBA, mengemukakan bahwa laporan PDB akan menjadi rilisan data yang mencatat sejarah, seiring sekitar setengah dari negara tersebut mengalami lockdown, namun gambaran secara nyata tampaknya telah berubah karena tingkat vaksinasi yang sangat tinggi, berakhirnya kebijakan lockdown serta kembali bergeraknya seluruh sektor penopang ekonomi.

Laporan mengenai data PDB resmi Australia akan dirilis pada pekan depan, dan kemungkinan akan menunjukkan penurunan hingga sekitar 3% selama periode kuartal ketiga, meskipun kinerja ekspor Australia mencatat hasil yang kuat untuk mampu mengimbangi sejumlah hambatan.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id ~ Perusahaan Pialang Berjangka PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas