RBA : Pelonggaran Kebijakan Berpotensi Melukai Sentimen Konsumen

RBA : Pelonggaran Kebijakan Berpotensi Melukai Sentimen Konsumen

Dalam RBA Monetary Policy Statement disebutkan bahwa bank sentral Australia merasa khawatir bahwa pihaknya akan kehabisan ruang untuk melakukan pemangkasan suku bunga lebih lanjut sembari menyatakan bahwa kebijakan pelonggaran berkelanjutan berpotensi melukai sentimen konsumen.

Hal ini menjadi sebuah sinyal yang kemungkinan akan menjadi pertimbangan dari RBA dalam menentukan arah kebijakan moneternya setidaknya dalam beberapa bulan kedepan. Akan tetapi ini berpotensi menjadi sebuah sikap dovish terhadap laju pertumbuhan upah, dan diperkirakan tidak mampu untuk memberikan dukungan untuk pertumbuhan.

Perkiraan tersebut meredam laju pertumbuhan upah hingga berkisar 2.3% di akhir tahun 2021. Dalam risalah mengenai kebijakan moneter tersebut, Reserve Bank of Australia mengatakan bahwa ekonomi negara tersebut berada di kisaran A$1.95 triliun yang secara bertahap keluar dari apa yang disebut “soft patch”.

Selain itu pasar keuangan global juga nampaknya telah melewati fase pesimisme, yang memberikan gambaran yang lebih optimis dari ekonomi dunia dibandingkan tinjauan sebelumnya pada bulan Agustus lalu.

RBA memutuskan untuk mempertahankan suku bunga bulan ini setelah pengurangan pada bulan Juni, Juli dan Oktober hingga ke rekor terendahnya di 0.75%, guna memberikan lebih banyak waktu untuk menilai dampak dari pemangkasan suku bunga sebelumnya.

Dalam hal ini Gubernur RBA Philip Lowe telah memberikan sejumlah rincian dalam pandangan para anggota dewan di bulan Oktober saat mereka sedikit meredakan kebijakan moneter mereka, dengan menyadari bahwa suku bunga sudah sangat rendah dan setiap kebijakan pemangkasan lebih lanjut dapat menedekati level di mana opsi kebijakan kemungkinan ikut berperan besar.

Risalah tersebut menyatakan bahwa hal ini juga akan memperhitungkan kemungkinan bahwa pelonggaran berpotensi menyampaikan pandangan yang lebih negatif terhadap prospek ekonomi dan saluran transmisi kebijakan kemungkinan kurang efektif terhadap tingkat suku bunga yang rendah.

Para anggota dewan menilai bahwa saat ini kebijakan yang lebih mudah akan membantu perekonomi melalui nilai tukar yang lebih rendah, harga aset yang lebih tinggi serta dukungan untuk laju pendapatan sektor rumah tangga Australia.

Tingkat suku bunga rendah menjadi salah satu alasan RBA yang mengharapkan pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan menjadi 2.75% di tahun depan, sebelum mampu mencapai 3% di 2021 mendatang. Namun demikian laju inflasi kemungkinan akan tetap berada di level rendah dan tingkat pengangguran akan tetap berada di kisaran level saat ini selama beberapa tahun kedepan, yang mana membutuhkan kebijakan yang tetap akomodatif untuk waktu yang lebih lama.

Lebih lanjut Lowe mengatakan bahwa kapasitas cadangan diperkirakan akan tetap mendukung pasar tenaga kerja selama beberapa tahun kedepan, dan dengan konsistensi terhadap prospek ini maka laju pertumbuhan upah yang lebih cepat akan diperlukan supaya laju inflasi dapat berkelanjutan dalam kisaran target dua hingga tiga persen.

RBA mengatakan pertumbuhan upah yang lambat kemungkinan akan menjaga tekanan inflasi domestik menjadi lebih terkendali. Dengan adanya bantuan dari kenaikan harga rumah, maka RBA memperkirakan laju konsumsi rumah tangga akan mengalami peningkatan secara bertahap, meskipun waktu penyelesaian, kecepatan lintasan serta pengaruh pasar perumahan menjadi faktor ketidakpastian utama.(

Deni Bahtera

Read Previous

BoE Mempertahankan Suku Bunga, Namun Dua Pejabat Menghendaki Dipangkas

Read Next

Kesepakatan AS – China Makin Menjanjikan, Harga Emas Terpuruk

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *