Presiden Trump Akan Menunda Tingkat pajak Senilai $250 Milliar Terhadap Cina

Presiden Trump Akan Menunda Tingkat pajak Senilai $250 Milliar Terhadap Cina

Pada hari Rabu kemarin melalui sosial media Twitter, Presiden Trump menulis bahwa dirinya akan menunda penerapan kebijakan pungutan terhadap barang produk Cina senilai $250 milliar hingga 15 Oktober dari sebelumnya yang dijadwalkan pada 1 Oktober, sebagai isyarat adanya niat baik ke pihak Beijing.

Trump mengatakan penundaan itu datang “atas permintaan Wakil Perdana Menteri China, Liu He, menjelang digelarnya perayaan 70th Anniversary dari Republik Rakyat Cina. Sebelumnya kenaikan pungutan ditetapkan menjadi 30% dari 25% terhadap barang-barang produk Cina.

Pada bulan lalu Presiden Trump berkeinginan untuk menggandakan pungutan terhadap produk impor dari Cina, setelah pihak Beijing diberitakan membalas pungutan Trump dengan menambah pungutan terhadap sejumlah produk AS, termasuk minyak mentah hingga sebesar $75 milliar. Trump merasa emosi setelah mengetahui bahwa Cina telah meresmikan rencana untuk kenaikan pungutan pada 23 Agustus, sebagai tanggapan terhadap kebijakan pungutan AS yang baru akan diterapkan pada 1 September lalu.

Menteri Finansial Steven Mnuchin dan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer kemudian meminta beberapa CEO untuk memanggil Trump dan memperingatkannya tentang efek dari langkah seperti itu terhadap pasar saham dan ekonomi.

Pada awal bulan ini Mnuchin mengatakan bahwa Washington dan Beijing telah memiliki perjanjian secara konseptual mengenai masalah penegakan hukum, menekankan kemajuan positif yang telah dibuat dalam pembicaraan perdagangan, yang akan dilanjutkan dengan pertemuan level puncak di bulan Oktober mendatang.

Pada kesempatan konsultasi dengan Fox Business Network, Mnuchin mengatakan bahwa dirinya berpikir jika pihak Washington memiliki kesepakatan secara konseptual di bidang penegakan hukum. Selain itu beliau juga menyampaikan bahwa dirinya mendapat peringatan mengenai Presiden Donald Trump yang tidak memiliki masalah dalam mempertahankan pungutan puncak terhadap Beijing jika kesepakatan diantara kedua negara adidaya ekonomi tersebut tidak mampu disentuh.(WD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini