Poundsterling Masih Berada Di Dekat Tingkat Terendahnya

Hingga memasuki sesi pertengahan perdagangan waktu Asia hari ini, pergerakan mata uang Poundsterling masih berjuang di dekat tingkat terendahnya dalam enam bulan terakhir terhadap US Dollar, akibat masih adanya kecemasan terhadap proses Brexit.

Sementara US Dollar sendiri tengah berjuang seiring traksi terhadap mata uang Yen, yang diakibatkan oleh prediksi pemotongan interest rate Federal Reserve sejak akhir bulan lalu, sehingga menempatkan greenback di posisi defensifnya.

Poundsterling bergerak lebih lembah setelah mencatat kerugian hingga 0.5% di sesi perdagangan semalam. Sedangkan mata uang Mata uang bersama Eropa sedikit berubah pasca jatuh hingga sebesar 0.1% di sesi perdagangan sehari sebelumnya, yang dibatasi oleh harapan bahwa pertemuan European Central Bank di pekan depan akan memberikan nada yang dovish.

Mata uang Poundsterling masih berada di bawah tekanan seiring para investor yang merasa khawatirn mengenai prediksi Boris Johnson untuk memenangkan kontes kepemimpinan Partai Konservatif dan menjadi kandidat perdana menteri Inggris berikutnya di awal bulan ini.

Data ekonomi yang buruk serta sinyak dari Bank of England yang menunjukkan bahwa bank sentral tersebut kemungkinan akan memotong interest rate, bukan menaikkannya seperti yang diperkirakan sebelumnya, telah menimbulkan pukulan bagi mata uang Poundsterling.

Yukio Ishizuki, ahli strategi mata uang senior di Daiwa Securities, mengatakan bahwa mata uang Mata uang bersama Eropa untuk saat ini terbebani oleh perjuangan yang panjang dari Poundsterling, yang pada akhirnya cenderung akan menderita akibat Brexit hingga diputuskannya siapa yang akan menjadi pemimpin Partai Konservatif pada pekan depan.

Menjelang dibukanya sesi perdagangan waktu London siang ini, kecemasan pasar terhadap Brexit yang sedikit mereda mampu membantu pasangan mata uang GBPUSD untuk mengurangi kerugian sebelumnya. Saat ini para investor tengah menunggu data dari sektor tenaga kerja di Inggris serta pidato dari Gubernur Bank of England, Mark Carney di pertemuan negara-negara anggota G7, guna mendapat petunjuk baru mengenai rute kebijakan Bank of England kedepannya.

Sementara itu Bloomberg melaporkan bahwa jalannya perundingan Brexit antara Inggris dengan Uni Eropa, berjalan dengan sangat konstruktif seiring dukungan dari kesiapan pihak Uni Eropa untuk menghindari brexit no-deal, yang sejalan dengan keinginan sejumlah anggota senior di parlemen Inggris yang berupaya untuk mengurangi peluang terjadinya Brexit tanpa adanya kesepakatan dari kedua belah pihak.

Pada kesempatan terpisah itu salah seorang kandidat perdana menteri Inggris pengganti Theresa May, Jeremy Hunt menyoroti kemampuannya untuk membahsa mengenai kesepakatan perdagangan baru dengan pihak Uni Eropa, namun dirinya menolak peluang pemilihan umum sebelum Brexit, seperti yang disuarakan oleh kandidat lainnya, Boris Johnson.(WD)

Sumber: Topgrowth Futures, Bloomberg.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here