• 16 Desember 2019

Pesanan Industri Jerman Di Bulan Mei Mencatat Pemotongan

Rute pesanan industri di Jerman untuk periode Mei, mengalami pemangkasan yang jauh lebih terendah dari yang diharapkan, dan pada saat yang bersamaan Kementerian Ekonomi mengeluarkan peringatan bahwa sektor ekonomi terbesar di Eropa ini kemungkinan akan tetap berjalan dalam jalur yang lemah untuk beberapa bulan kedepan.

Data pesanan industri Jerman turun 2.2% di bulan Mei, setelah sebelumnya mencatat sedikit kenaikan pada bulan Maret dan April, yang mana pembacaan ini menggarisbawahi perkiraan pemangkasan 0.1% dalam survey Reuters.

Terkait hal tersebut, Carsten Brzeski selaku ahli ekonomi di INGR mengatakan bahwa deflasi yang tercatat di pesanan industri besar, masih terus berlanjut, yang merusak harapan terjadinya rebound di sektor industri Jerman. Selain itu data terbaru lainnya juga memberikan gambaran suram dari sektor ini, seiring pesanan produk teknik yang juga mencatat pemangkasan serta aktivitas sektor manufaktur yang mengalami kemerosotan.

Sebelumnya sebuah survei yang dilakukan oleh lembaga Ifo, menunjukkan bahwa produsen di Jerman berharap untuk lebih memanfaatkan apa yang disebut “Kurzarbeit”, yaitu fasilitas singkat yang bertujuan untuk menghindari terjadinya PHK secara massal.

Sementara itu Thomas Gitzel selaku ahli ekonomi di VP Bank mengatakan bahwa jika mengingat terjadinya pemangkasan signifikan dalam pesanan yang masuk, produksi industri akan tetap sangat lemah di periode paruh kedua tahun ini dan sekaligus akan menjadi faktor yang menambah risiko terjadinya resesi bagi ekonomi di Jerman.

Rincian data mengenai hal tersebut, menunjukkan kontrak asing turun sebesar 4.3%, akibat dari pemangkasan jalur permintaan yang kuat dari negara-negara non-Mata uang tunggal Eropa.

Kamar Dagang Industri dan Perdagangan DIHK menilai bahwa selama pekan ini lebih dari setengah perkiraan untuk pertumbuhan ekspor tahun ini hanya sebesar 1% dan badan teknik dari VDMA mengatakan bahwa kebijakan tingkat pajak balasan terhadap barang impor AS dan Cina, akan memberikan kontribusi terhadap pemangkasan sebesar 2% dari data produksi di tahun ini.

Konflik perdagangan, keluarnya Inggris dari Uni Eropa serta prediksi ekonomi global yang melemah, telah menyebabkan pukulan bahi ekonomi Jerman, yang selama bertahun-tahun sangat tergantung kepada sektor ekspor mereka untuk memacu pertumbuhannya, akan tetapi saat ini ekonomi Jerman semakin tergantung kepada jalur konsumsi swasta.

Sejak 2009 silam ekonomi Jerman telah berekspansi, namun saat ini ekonomi di negara terbesar Eropa tersebut kembali ke tingkat pertumbuhan antara Januari hingga Maret lalu, yang mencatat pertumbuhan 0.4%, namun Bundesbank justru memperkirakan akan terjadi kemerosotan dalam skala kecil di kuartal kedua lalu.(WD)

Sumber: Topgrowth Futures, Investing.