Pertumbuhan Ekspor China Lebih Cepat Dari Perkiraan

Pertumbuhan Ekspor Cina Lebih Cepat Dari Perkiraan
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Permintaan global yang kuat telah mampu mengimbangi sejumlah tekanan terhadap krisis listrik yang melanda sektor pabrikan serta kebangkitan kasus Covid-19 dalam skala domestik, sehingga hal ini mampu mendorong laju ekspor China untuk tumbuh lebih cepat dari yang diharapkan sebelumnya pada periode September lalu.

Ekspor China pada September naik 28.1% dari tahun sebelumnya, lebih tinggi dari kenaikan 25.6% pada Agustus sebelumnya, sementara itu para analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan pertumbuhan akan turun menjadi 21%.

Negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut mampu mencatatkan rebound kuat dari krisis pandemi virus corona, namun tanda-tanda pemulihan nampaknya mulai kehilangan momentumnya, seiring masalah baru yang melanda termasuk tingginya permintaan bahan baku serta hambatan pasokan yang telah meredupkan prospek ekonomi China.

Krisis listrik yang menyebabkan kekurangan daya disebabkan oleh program transisi ke energi bersih, permintaan industri yang kuat serta harga komoditas yang tinggi, telah menghentikan aktifitas produksi di banyak fasilitas pabrik sehingga berdampak terhadap sejumlah perusahaan pemasok dunia, seperti Apple Inc dan Tesla.

Sebuah data terbaru menunjukkan adanya perlambatan dalam aktifitas produksi, menyusul laporan PMI manufaktur China yang secara tidak terduga mengalami penyusutan di bulan September, yang diakibatkan karena perusahaan industri yang tengah berjuang dengan masalah kenaikan biaya dan dijatahnya pasokan listrik.

Sementara itu laju impor dilaporkan meningkat sebesar 17.6%, lebih rendah dari perkiraan kenaikan sebesar 20% dalam jajak pendapat Reuters, dan melemah dari pertumbuhan sebesar 33.1% dari bulan Agustus sebelumnya.

Dengan demikian China mencatatkan surplus perdagangannya hingga sebesar $ 66.76 milliar pada bulan September, lebih besar dari perkiraan surplus sebesar $ 46.8 milliar dalam jajak pendapat Reuters dan mencatatkan hasil yang lebih tinggi dari surplus sebesar $ 58.34 milliar pada bulan Agustus sebelumnya.

Sejumlah besar analis mengharapkan bank sentral China akan menyuntikkan lebih banyak stimulus, dengan memangkas jumlah uang tunai yang harus dimiliki oleh bank sebagai cadangan di akhir tahun ini, guna membantu usaha kecil dan menengah.

Surplus perdagangan China dengan Amerika Serikat naik menjadi $42 miliar, sedangkan perhitungan Reuters berdasarkan data bea cukai menunjukkan, naik dari $37.68 miliar pada Agustus, setelah pada pekan lalu para pejabat tinggi perdagangan dari AS dan China melakukan tinjauan terhadap implementasi dari US-China Economic and Trade Agreement.

Sebelumnya diberitakan bahwa pihak AS telah menekan China untuk tetap pada komitmennya di bawah kesepakatan perdagangan Fase-1, yang telah meredakan perang tarif yang berlangsung lama antara dua negara ekonomi terbesar di dunia, yang mana kesepakatan tersebut akan berakhir pada akhir tahun ini.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id ~ Perusahaan Pialang Berjangka PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas