Pertumbuhan Ekonomi Jepang Melambat Di Kuartal Kedua

Pertumbuhan Ekonomi Jepang Melambat Di Kuartal Kedua

Pertumbuhan ekonomi Jepang melaju dalam kecepatan yang lebih lambat dari yang diperkirakan di periode kuartal kedua seiring jalur belanja modal yang melambat, sehingga memberikan gambaran ketegangan ekonomi yang diakibatkan oleh pertumbuhan global yang lemah serta berlanjutnya perang dagang AS-Cina.

Kelemahan dalam ekonomi global dan proteksionisme perdagangan telah muncul sebagai risiko terhadap pertumbuhan dan meningkatnya tekanan bagi bank sentral Jepang untuk memperluas stimulusnya pada pertemuan kebijakan di akhir bulan ini.

Kantor Kabinet melaporkan bahwa ekonomi Jepang tumbuh 1.3% di posisi tahunan pada periode April-Juni, lebih lemah dari pembacaan awal di ukuran 1.8% di posisi tahunan. Posisi pertumbuhan tahunan mencerminkan eskpansi kuartalan sebesar 0.3% dari Januari hingga Maret, lebih terendah dari pembacaan awal pertumbuhan 0.4%.

Faktor utama yang memperlambat pertumbuhan ekonomi di negeri Matahari Terbit adalah jalur belanja modal yang hanya mencatat kenaikan 0.2% dari kuartal sebelumnya, jauh lebih terendah dari awal di 1.5%, bahkan lebih terendah dari spekulasi pertumbuhan 0.7% dari para ahli ekonomi.

Konsumsi swasta, yang berkontribusi sekitar 60% dari GDP, mencatat kenaikan 0.6% dari tiga bulan sebelumnya, yang sesuai dengan pembacaan awal. Ekspor bersih, setelah dikurangi impor, mencatat pengurangan 0.3 poin persentase dari pertumbuhan GDP yang telah direvisi, sementara jalur permintaan domestik justru bertambah 0.6 poin persentase.

Dengan demikian outlook ekonomi Jepang masih tetap berada dalam ketidakpastian efek risiko dari pemangkasan manufaktur di luar negeri dan di dalam negeri yang memukul ekspor dengan keras. Selain itu para analis juga telah memberikan peringatan adanya kemungkinan pemangkasan konsumsi domestik pasca pemerintah meningkatkan retribusi aksi jual menjadi 10% di bulan Oktober mendatang. Hal ini pada akhirnya akan menimbulkan ancaman hilangnya pendorong pertumbuhan ekonomi, kecuali jalur permintaan global mengalami lonjakan.

Terkait akan hal tersebut diatas, Gubernur bank sentral Jepang, Haruhiko Kuroda telah mengatakan pada pekan lalu bahwa dirinya tetap menjaga terbukanya peluang untuk memotong interest rate lebih terendah lagi di wilayah negatifnya sebagai salah satu opsi kebijakan bank sentral.

Dengan demikian beredar perkiraan bahwa bank sentral Jepang dapat melonggarkan kebijakan moneternya di awal bulan ini guna mencegah lonjakan level tukar Yen, yang mana hal ini sangat mungkin terjadi apabilan FED dan ECB mengeluarkan langkah-langkah pelonggaran kebijakan keuangan yang baru.(WD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini