Pertumbuhan AS Diperkirakan Melambat Di Kuartal Ketiga

Pertumbuhan AS Diperkirakan Melambat Di Kuartal Ketiga

Menjelang dirilisnya data GDP AS pada malam nanti, sejumlah kalangan menilai bahwa ekonomi AS kemungkinan akan mengalami perlambatan lebih lanjut di kuartal ketiga, yang mengalami hambatan akibat laju pengeluran konsumen yang tumbuh secara moderat serta investasi bisnis yang menurun.

Perkiraan ini dapat memacu Federal Reserve untuk memangkas suku bunga acuannya kembali guna menjaga ekspansi ekonomi di jalurnya.

Data GDP yang akan dirilis malam nanti kemungkinan akan memberikan gambatan ekonomi AS yang kehilangan laju percepatan pertumbuhannya, namun dinilai masih jauh dari jurang resesi seperti yang selama ini ditakutkan oleh pasar keuangan sejak awal tahun 2019 ini.

Tidak bisa dipungkiri bahwa dampak trade war dengan Cina yang telah berlangsung selama 15 bulan telah mengikis kepercayaan konsumen dan bisnis, sehingga hal inilah yang melumpuhkan ekonominya. Kebijakan stimulus yang memudar dari paket pemangkasan pajak senilai $1.5 triliun di tahun lalu serta melemahnya pertumbuhan global, turut menjadi faktor utama yang menghambat rekor ekspansi ekonomi terpanjang AS yang saat ini memasuki tahun kesebelas.

Laporan GDP ini akan dirilis hanya berselang beberapa jam sebelum para pejabat FOMC mengakhir pertemuan kebijakan dua hari, yang mana diperkirakan bahwa mereka akan memangkas suku bunga untuk ketiga kalinya di tahun ini.

Sebelumnya The Fed telah memangkas suku bunga pada bulan September setelah mengurangi biaya pinjaman pada bulan Juli untuk pertama kalinya sejak 2008.

Lindsey Piegza selaku kepala ekonom di Stifel yang bermarkas di Chicago, mengatakan bahwahilangnya momentum yang berlanjutan, tidak saja membenarka tindakan yang telah diambil oleh The Fed sebelumnya, akan tetapi justru menegaskan perlunya stimulus kebijakan tambahan untuk mencegah berlanjutnya tren pertumbuhan di aktifitas domestik.

Menurut sebuah survei dari Reuters terhadap sejumlah ekonom, Gross Domestick Product kemungkinan mengalami peningkatan 1.6% di tingkat tahunan pada periode kuartal ketiga lalu, akibat tingkat persediaan yang lebih kecil setelah sebelumnya mencatat kenaikan 2.0% di periode April-Juni.

Pada tahun lalu ekonomi AS dilaporkan tumbuh 2.9% dan untuk tahun ini diperkirakan akan tumbuh dibawah 2.5%. Sementara itu para ekonom memperkirakan kecepatan pertumbuhan ekonomi dalam periode yang lebih panjang akan memicu inflasi dikisaran antara 1.7% hingga 2.0%.

Laporan GDP diharapkan dapat menunjukkan laju inflasi yang meningkat di kuartal terakhir, meskipun tren keseluruhan kemungkinan tetap berada di jalur moderatnya. Pertumbuhan pengeluaran konsumen diperkirakan akan mengalami perlambatan setelah sebelumnya mengalami lonjakan di 4.6% pada periode kuartal kedua, yang mencatat pertumbuhan tercepatnya sejak kuartal terakhir 2017 lalu.

Meskipun tingkat pengangguran terendah dalam hampir 50 tahun, yang telah mendukung pengeluaran, beberapa ekonom mulai mempertanyakan ketahanan konsumen setelah penjualan ritel di bulan September mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan terakhir.

Sedangkan kepala ekonom di Bank of the West di San Fransisco, mengatakan bahwa jika pengeluaran konsumen meleset dari perkiraan di kuartal keempat, namun ada sedikit dukungan lain bagi ekonomi untuk berada di jalur kenaikannya kembali.

Untuk sektor perdagangan, diperkirakan defisit perdagangan akan menyempit dari kuartal kedua. Akan tetapi ekonom melihat bahwa defisit yang menyusut akan memberikan cerminan terhadap kelemahan mendasar di ekonomi AS.

Terkait akan hal ini, Michael Gapen selaku kepala ekonom di Barclays New York, menyebutkan bahwa volume perdagangan AS akan melambat dan sekaligus juga akan membuat laju pertumbuhan global juga mengalami perlambatan dan hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh kebijakan perdagangan AS. Laju peningkatan inventaris yang melambat, menjadi salah satu faktor lemahnya produksi di sektor manufaktur.(

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini