• 15 Desember 2019

Penjualan Ritel Jepang Dilaporkan Turun Di Bulan Oktober

Penjualan Ritel Jepang Dilaporkan Turun Di Bulan Oktober

Penjualan ritel Jepang dilaporkan anjlok di laju tercepatnya dalam empat setengah tahun terakhir di bulan Oktober, akibat dari kenaikan pajak penjualan yang mendorong konsumen untuk memangkas pengeluaran mereka, sehingga memberikan sinyal negatif bagi kekuatan permintaan domestik.

Pada awalnya pemerintah Jepang menaikkan pajak penjualan nasional guna memperbaiki beban hutang publik terbesarnya di dunia industri, yang berjumlah dua kali lipat lebih dari besaran produk domestik bruto mereka. Data retail sales Jepang di bulan Oktober turun 7.1% dari periode yang sama di tahun sebelumnya, yang diakibatkan oleh laju permintaan yang lemah terhadap barang-barang seperti mobil dan peralatan rumah tangga serta pakaian, sehingga memukul sektor departmet store.

Penurunan ini menjadi yang terbesar sejak retail sales turun sebesar 9.7% di bulan Maret 2015 lalu, dan jauh lebih buruk dari penurunan sebesar 4.4% yang sebelumnya diperkirakan oleh para ekonom dalam jajak pendapat Reuters.

Meskipun pada dasarnya penurunan ini disebabkan oleh kenaikan pajak penjualan, namun sejumlah analis menilai bahwa kenaikan pajak dapat menyisakan perekonomian tanpa adanya faktor pendorong pertumbuhan di tengah penurunan laju ekspor dan produksi serta sejumlah faktor lainnya yang memberikan tekanan terhadap sektor konsumen.

Selain itu Kementerian Perdagangan Jepang juga melaporkan penurunan penjualan ritel yang disesuaikan secara musiman sebesar 14.4% di tingkat bulanan pada Oktober lalu. Kondisi suram telah menyebabkan panggilan bagi pemerintah untuk menyusun paket pengeluaran besar untuk menjaga pemulihan ekonomi yang rapuh.

Taro Saito selaku executive research di NLI Research Institute, menilai bahwa terlepas dari hasil data hari ini, tingkat konsumsi telah berada dalam kondisi yang lemah serta sentimen konsumen yang semakin buruk. Lebih jauh Saito mengatakan bahwa pendapatan belum mencatat kenaikan pada awalnya, sehingga konsumsi belum mampu meningkat sejak kebijakan kenaikan pajak penjualan di jalankan.

Data negatif ini semakin memperparah serangkaian data ekonomi sebelumnya, yang mana sebuah data terpisah di bulan ini menunjukkan bahwa ekonomi Jepang hampir tidak tumbuh di kuartal ketiga lalu, sementara data ekspor di bulan Oktober mengalami penyusutan di laju tercepatnya dalam tiga tahun terakhir.

Tercatat bahwa lebih banyak tekanan struktural yang tengah dihadapi oleh pengecer, bahkan ini terjadi sebelum kenaikan pajak penjualan, seperti yang terlihat dari penurunan upah yang berkepanjangan.

Semua faktor tersebut menimbulkan tantangan bagi pemerintah yang saat ini sedang berupaya untuk menyingkirikan konsumen dari pola pikir deflasi yang telah ada sejak lama, sehingga membebani harga, merugikan laba perusahaan serta sekaligus membentuk kebijakan moneter ultra longgar yang telah berlangsung berkepanjangan.

Dengan demikian muncul adanya risiko bahwa pengecer akan memangkas harga guna mengimbangi kenaikan pajak, sementara itu banyak toko yang juga menawarkan diskon untuk pembayaran tunai. Sebelumnya pemerintah Jepang telah memperkenalkan program rabat untuk transaksi cashless, yang dirancang untuk meredam tekanan kenaikan pajak terhadap pengecer serta sekaligus mendorong konsumen Jepang untuk menggunakan pembayaran elektronik.(