Penjualan Ritel Australia Mencatat Penurunan

Penjualan Ritel Australia Mencatat Penurunan
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Akibat dari kebijakan lockdown serta pembatasan mobilitas di sebagian besar wilayah yang memberikan tekanan bagi laju permintaan sehingga laju penjualan ritel Australia dilaporkan merosot di bulan Juni, sekaligus membayangi prospek pertumbuhan di kuartal ketiga ini akibat meningkatnya kasus virus corona.

Australian Bureau of Statistics (ABS) menunjukkan bahwa turnover dari penjualan ritel selama bulan Juni dilaporkan turun 1.8% dari bulan sebelumnya, yang merupakan penurunan terbesarnya di tahun ini serta masih lebih besar dari perkiraan penurunan di angka 0.5%, setelah mencatat kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan sebesar 0.4% di bulan Mei.

Dalam sebuah catatan dari ekonom ANZ disebutkan bahwa pihaknya memperkirakan laju penjualan ritel akan kembali mengalami penurunan di bulan Juli, karena pemberlakukan lockdown di Sidney yang semakin intensif, serta ditambah dengan lockdown terhadap Melbourne dan kota besar lainnya juga telah dimulai.

Sebelumnya wilayah Australia Selatan juga telah mengalami, dan saat risiko lockdown panjang terhadap Sidney terus meningkat, maka dengan demikian risiko pemulihan yang diredam juga akan mengalami hambatan.

Seperti yang terjadi terhadap raksasa elektronik JB Hi-Fi yang pada pekan ini telah memperingatkan bahwa laju penjualannya telah mengalami penurunan hingga Juli, sementara larangan aktifitas konstruksi di Sidney kemungkinan besar juga akan memberikan pukulan bagi penjualan toko hardware.

Para ekonom memperingatakan bahwa dengan berkurangnya dukungan pendapatan dari pemerintah serta ketidakamanan pekerjaan di tengah kebijakan lockdown yang diperpanjang, dapat memberikan tekanan bagi laju permintaan lebih lanjut.

Pada hari ini Perdana Menteri Scott Morrison mencoba meyakinkan warga Australia bahwa pemerintahannya telah memberikan dukungan tepat waktu, proporsional dan tepat sasaran, serta menambahkan bahwa kebijakan lockdown akan memiliki dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi selama kuartal ini.

Ryan Felsman selaku ekonom di CommSec mengatakan bahwa dengan sekitar setengah dari populasi dan ekonomi Australia yang saat ini berada di bawah penerapan lockdown yang keras, maka kurva pemulihan ekonomi Australia berbentuk V, yang dapat berubah menjadi bentuk W dengan cepat apabila wabah Covid-19 yang terus menerus tidak dapat dikendalikan.

Kekhawatiran bahwa penguncian saat ini di tiga dari enam negara bagian Australia akan diperpanjang membuat mata uang Aussie melemah karena tergelincir dalam lima sesi perdagangannya secara berturut-turut hingga ke level terendah sejak November 2020.

Saat ini mayoritas ekonom memperkirakan bahwa ekonomi Australia senilai A$ 2 triliun ($ 1.5 triliun) akan mengalami penyusutan di kuartal ketiga ini, dan menjadi kontraksi yang pertama sejak Juni 2020 lalu, sementara itu RBA terlihat membalikkan keputusan pengurangan pembelian asetnya sebagai tanggapan terhadap wabah virus saat ini.

Perlambatan permintaan sudah dibuktikan oleh pembacaan kepercayaan konsumen mingguan, dengan laporan terbaru menunjukkan penurunan 5,2% minggu lalu, penurunan terbesar sejak Maret 2020 ketika pandemi pertama kali melanda.

Sementara itu data pengeluaran kartu kredit dan karti debit dari Commonwealth Bank menunjukkan laju penurunan 0.6% di wilayah New South Wales, negara bagian dengan Sidney sebagai ibukotanya, selama sepekan hingga 16 Juli lalu, dari pekan sebelumnya yang mencatat kenaikan 2.1%.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id ~ Perusahaan Pialang Berjangka PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas