Pengeluaran Rumah Tangga Jepang Turun Di Laju Tercepat

Pengeluaran Rumah Tangga Jepang Turun Di Laju Tercepat
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Seiring seruan pemerintah kepada warga Jepang untuk tetap berada di rumah dalam upaya meredam pandemi virus corona di bulan Mei lalu, maka laju pengeluaran sektor rumah tangga di negara tersebut dilaporkan turun di laju tercepatnya pada bulan itu sehingga mendorong ekonomi Jepang jatuh semakin dalam.

Penurunan laju pengeluaran dalam jumlah yang besar, dinilai akan semakin menambah tekanan terhadap para pembuat kebijakan untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam upaya pemulihan kepercayaan di kalangan bisnis dan konsumen pada khususnya.

Japan’s Statistic Bureau melaporkan pengeluaran sektor rumah tangga turun sebesar 16.2% di bulan Mei dari periode yang sama di tahun sebelumnya, yang merupakan penurunan dalam laju tercepatnya sejak data sebanding tersedia di tahun 2001 silam.

Data ini memperpanjang laju penurunan dari bulan April sebelumnya yang tercatat turun sebesar 11.1%, dan lebih besar dari perkiraan penurunan rata-rata sebesar 12.2% dari para ekonom.

Dengan demikian pemulihan belanja konsumen diperkirakan akan mengalami perlambatan dan masih tetap rapuh, seiring sektor rumah tangga yang nampaknya masih enggan untuk meningkatkan belanja mereka setelah dicabutnya kondisi darurat pada bulan Mei lalu.

Terkait akan hal ini, Kepala Ekonom di Itochu Economic Research Institute, Atsushi Takeda mengatakan bahwa laju pemulihan dalam kondisi yang mengkhawatirkan, meskipun pemerintah telah meluncurkan langkah-langkah kebijakan, dan akan sulit untuk keluar dari dampak pandemi dalam waktu yang cepat.

Akan tetapi Bank of Japan diperkirakan akan tetap mempertahankan pandangannya bahwa ekonomi Jepang akan berangsur pulih di akhir tahun ini, dalam laporan triwulanan di pekan depan.

Rilisan data ini juga menunjukkan bahwa pemangkasan besar dalam pengeluaran untuk hotel, transportasi dan restoran di saat para warga Jepang memilih untuk tetap tinggal di rumah.

Namun di sisi lain kebijakan stay at home ini telah mendorong laju pengeluaran terhadap barang-barang kebutuhan tertentu, seperti daging babi dan sapi, alkohol serta barang sanitizer lainnya seperti masker wajah dan handuk kertas.

Prospek pengeluaran rumah tangga secara keseluruhan untuk beberapa bulan kedepan nampaknya masih suram, karena diperkirakan akan terjadi kenaikan di jumlah warga yang kehilangan pekerjaan, terutama di perusahaan-perusahaan sektor jasa yang tentunya akan menambah beban bagi sentimen ekonomi.

Sementara itu sebuah data terpisah menunjukkan bahwa upah riil yang disesuaikan dengan inflasi pada bulan Mei, dilaporkan mengalami penurunan juga dalam laju tercepatnya sejak Juni 2015 sehingga semakin menambah stres di sektor tenaga kerja Jepang.

Para pembuat kebijakan berharap kenaikan permintaan domestik akan cukup kuat untuk mendukung pemulihan ekonomi selama negara tersebut berupaya untuk mencegah gelombang kedua infeksi virus corona.

Untuk itu pemerintah telah menyusun dua paket pengeluaran yang jika digabungkan bernilai hingga $2.2 triliun, guna mengimbangi tekanan akibat pandemi, termasuk pemberian bantuan tunai sebesar 100,000 Yen ($932) kepada setiap warga.

Meski demikian laju pengeluaran dinilai akan kembali mendapat pukulan yang lebih besar di masa depan, jika prospek bisnis yang semakin buruk memaksa perusahaan untuk melakukan pemangkasan bonus pekerja atau bahkan memberhentikan lebih banyak pekerjanya.(

Gulir ke Atas