Pasokan Global Berpotensi Berlimpah, Oil Tergelincir

AS Perintahkan Rilis SPR, Harga Oil Anjlok Tajam
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Oil terkuras lebih dari 2% hingga memasuki sesi perdagangan zona waktu pasar Eropa hari ini (Jumat, 26 November 2021) di tengah kecemasan bahwa pasokan global minyak mentah berpotensi surplus pada kuartal pertama.

Proyeksi tersebut dilatari oleh kebijakan gelontoran cadangan minyak mentah terkoordinasi di bawah pimpinan Amerika Serikat dari negara-negara konsumen minyak mentah utama, antara lain China, India dan Jepang.

Faktor tersebut berpadu erat dengan kian melonjaknya kasus paparan COVID-19 dengan varian baru, sehingga menambah ketakutan para investor.

Minyak mentah berjangka jenis Brent memperpanjang penurunan ketiga hari menuju level harga $80.53 per barel. Sementara minyak mentah berjangka WTI AS, anjlok sebesar 2.6% menjadi $76.35 per barel.

Di sisi lain, sajian grafik Daily pada MT4 TopGrowth untuk CLSC (Spot Month Contract for Crude Oil Futures @ NYMEX), setelah pada hari Rabu dan Kamis tersendat serta membentuk doji minor, saat ini terdeteksi mengalami tekanan intens dan berpotensi mengusik support kritis 74.74.

Kemungkinan penurunan lebih lanjut akan membayangi Oil, bersanding dengan potensi volatilitas yang intens di ranah pasar uang di tengah kekhawatiran eskalasi varian baru COVID-19 yang akan menekan demand.

Joe Biden mengumumkan pada Selasa lalu kesiapan untuk melepaskan jutaan barel minyak mentah dari cadangan strategis yang berkoordinasi dengan negara-negara konsumen besar.

Seruan tersebut berpeluang membengkakkan pasokan dalam beberapa bulan mendatang, ujar sumber OPEC. Sementara Dewan Komisi Ekonomi ECB memperkirakan surplus 400.000 barel per hari pada Desember, meningkat menjadi 2.3 juta barel per hari pada Januari dan 3.7 juta barel per hari pada Februari, jika negara-negara konsumen utama melanjutkan aksi mengeluarkan cadangan minyak strategisnya.

Prakiraan kenaikan pasokan minyak mentah juga mengaburkan prospek pertemuan antara OPEC dan sekutunya, atau OPEC+ pada tanggal 2 Desember mendatang untuk memutuskan produksi segera.

OPEC+ akan memutuskan apakah akan terus menggenjot produksinya sebesar 400.000 barel per hari pada Januari atau tidak.

Senin depan, pihak Barat dan Iran akan melanjutkan negosiasi untuk menghidupkan lagi kesepakatan nuklir 2015 yang dapat mengarah pada pencabutan sanksi terhadap ekspor minyak Iran.

Namun, jika Iran dan Badan Energi Atom Internasional tidak mencapai kesepakatan terkait pantauan fasilitas nuklir Iran secara menyeluruh, akan menjadi indikasi kemungkinan mentahnya negosiasi Barat dan Iran, yang pada gilirannya rentan berimplikasi pada arah pergerakan harga minyak mentah global yang liar ke depannya.

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id ~ Perusahaan Pialang Berjangka PT Topgrowth Futures

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas