Output Pabrik Jepang Turun Dalam Laju Tercepatnya

Output Pabrik Jepang Turun Dalam Laju Tercepatnya
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Sejumlah sektor penopang ekonomi Jepang mengalami penurunan lebih cepat dari perkiraan, salah satunya adalah output pabrik dan penjualan ritel yang mengalami penurunan lebih cepat dan lebih besar dari yang diharapkan dalam lebih dari dua dekade terakhir pada bulan April lalu.

Semua ini tidak terlepas dari pandemi virus corona yang telah meruntuhkan tingkat permintaan asing dan domestik untuk produk otomotif dan sejumlah produk manufaktur lainnya dari negara ekonomi terbesar ketiga tersebut.

Data resmi pada hari Jumat menunjukkan output pabrik turun 9.1% pada bulan April dari bulan sebelumnya, sekaligus mencatat penurunan terbesar sejak data yang sebanding tersedia pada 2013 karena produsen mobil dan produsen besi dan baja mengalami penurunan tajam.

Takeshi Minami selaku kepala ekonom di Norinchukin Research Institute, kemungkinan output akan mengalami peningkatan mulai bulan Juni dan seterusnya, namun tetap perlu diwaspadai terhadap potensi gelombang kedua dari infeksi Covid-19, yang mana rebound output kemungkinan akan berjalan lambat.

Laju produksi mobil mengalami penurunan hingga sepertiganya dari bulan sebelumnya, sehingga hal ini membuat pemerintah menurunkan deskripsi produksi keseluruhan menjadi “menurun dengan cepat” untuk pertama kalinya sejak November 2008 dari predikat “menurun” di bulan sebelumnya.

Nissan Motor Co berencana untuk memangkas kapasitas produksi serta kisaran modelnya hingga sekitar seperlima, guna membantu mengurangi biaya produksi sampai sebesar 300 milliar Yen ($2.79 milliar), menyusul penurunan laju penjualan mereka.

Data output pabrik menunjukkan produsen yang disurvei oleh pemerintah memperkirakan output turun 4.1% pada bulan Mei, diikuti oleh kenaikan 3.9% pada bulan Juni.

Sementara itu sebuah data terpisah menjabarkan penjualan ritel yang mengalami kejatuhan dalam laju tercepatnya sejak Maret 1998 silam, di saat kondisi darurat nasional yang diberlakukan kemarin telah menyebabkan ditutupnya bisnis di sektor jasa.

Penjualan ritel anjlok 13.7% pada bulan April dari periode yang sama di tahun sebelumnya, yang mana menunjukkan bahwa sektor ini sangat terbebani oleh penurunan laju permintaan barang dagangan umum, pakaian dan kendaraan.

Angka-angka yang buruk ini semakin menunjukkan bahwa resesi tengah terjadi selama enam bulan terakhir hingga Maret lalu, yang kemungkinan akan semakin dalam di kuartal kedua ini, akibat dari kebijakan lockdown yang menghambat rantai pasokan serta membuat para konsumen tetap berada di rumah.

Selain itu data pemerintah Jepang lainnya yang dirilis pada hari ini menunjukkan kondisi yang memburuk di pasar tenaga kerja, menyusul data tingkat pengangguran di bulan April yang naik menjadi 2.6%, angka tertinggi sejak 2017, meskipun masih tergolong rendah dibandingkan dengan tingkat pengangguran di negara maju lainnya di mana tingkat pengangguran mendekati era depresi.

Para analis menilai bahwa tingginya angka pengangguran sebagian besar disebabkan oleh pukulan yang mendera sektor jasa, hingga menorehkan catatan terparahnya sejak krisis keuangan global di tahun 2009 lalu.(

Gulir ke Atas