• 24 Januari 2020

ONS : Pertumbuhan Upah Di Inggris Akan Mendukung Laju Inflasi

Para pengusaha di Inggris secara tidak terduga melakukan perekrutan lebih banyak staf pekerja dalam tiga bulan sebelum batas waktu pelaksanaan Brexit sebelumnya di akhir Oktober lalu.

Sebelumnya kekhawatiran mengenai tanda-tanda kelemahan dalam data tenaga kerja baru-baru ini, telah mendorong Bank of England dalam menetapkan dua kebijakan suku bunga dan memilih untuk melakukan pemangkasan biaya pinjaman di bulan lalu serta diharapkan kembali dipangkas di pekan ini.

Data resmi yang dirilis pada hari ini menunjukkan kenaikan jumlah pekerja sebanyak 24 ribu orang menjadi 32.8 juta dalam tiga bulan yang berakhir di bulan Oktober, sekaligus mematahkan perkiraan median ekonom untuk penurunan sebanyak 10 ribu dalam jajak pendapat Reuters.

Data tersebut telah mendorong tingkat pekerjaan ke level tertinggi sepanjang masa di angka 76.2%, sementara jumlah orang yang kehilangan pekerjaan tercatat mengalami penurunan sebanyak 13 ribu menjadi 1.281 juta orang. Sementara tingkat pengangguran juga mencatat penurunan kembali ke level terendahnya sejak tiga bulan hingga Januari 1975 di angka 3.8%.

Ekonomi Inggris tumbuh dalam laju tahunan paling lambat dalam hampir tujuh tahun terakhir di bulan Oktober lalu, seiring tekanan akibat pengaruh ketegangan perdagangan terhadap ekonomi global serta semakin dekatnya batas waktu Brexit dan pemilihan umum di pekan lalu.

Namun demikian pasar tenaga kerja di Inggris tetap kuat, yang sebagian dikarenakan para pengusaha mempekerjakan staf pekerjanya.

Pada pekan lalu Perdana Menteri Boris Johnson telah mengurangi ketidakpastian yang menggantung terhadap ekonomi negara tersebut.

Tingkat pengangguran yang berada di level rendah telah memberikan dorongan bagi kenaikan upah, sehingga berpotensi menambah dukungan terhadap laju inflasi dalam perekonomian yang diawasi secara ketat oleh Bank of England.

Kantor Statistik Nasional mengatakan total pendapatan, termasuk bonus, naik 3.2% di tingkat tahunan, atau melambat tajam dari 3.7% dalam tiga bulan hingga September, sehingga tercatat sebagai kenaikan terlemah dalam lebih dari setahun terakhir.

Sedangkan pertumbuhan pembayaran yang tidak termasuk bonus, justru mencatat perlambatan menjadi 3.5% dari 3.6% dalam tiga bulan yang berakhir di September, namun masih berad diatas perkiraan jajak pendapat Reuters di angka 3.4%.

David Freeman selaku ahli statistik dari Office for National Statistics, mengatakan laju pembayaran masih menunjukkan peningkatan secara riil, namun tingkat pertumbuhannya telah mengalami perlambatan dalam beberapa bulan terakhir.(