ONS : Ekonomi Inggris Mencapai Rekor Penurunannya

Sebuah data yang dirilis pada hari ini menunjukkan bahwa ekonomi Inggris menyusut hingga mencatat rekornya di angka 5.8% di bulan Maret dari bulan sebelumnya, akibat krisis virus corona yang meningkat serta ditambah perintah penutupan sebagian besar wilayah Inggris untuk menghentikan penyebaran Covid-19.

Sebelumnya Office for National Statistics mengatakan bahwa produk domestik bruto mengalami kontraksi 2.0% di tiga bulan pertama tahun ini, dari sebelumnya pada kuartal terakhir di tahun lalu.

Meskipun sedikit lebih rendah dari perkiraan penurunan rata-rata 2.5% dalam jajak pendapat Reuters terhadap ekonom, namun angka ini mencatat penurunan di tingkat kuartal terbesar sejak akhir 2008 silam saat terjadi krisis keuangan global.

Angka tersebut juga mencatat penurunan yang lebih kecil dari penurunan 3.8% dalam PDB di Eurozone pada periode Januari-Maret meskipun beberapa negara di pengguna mata uang tunggal Euro telah mulai menerapkan kebijakan lockdown mereka sebelum Inggris.

Sementara itu data yang tercantum di bulan April cenderung menunjukkan penurunan yang lebih besar dalam output ekonomi Inggris dibandingkan pada bulan Maret karena dalam periode tersebut aktifitas perusahaan dan konsumen di Inggris terhenti akibat kebijakan lockdown.

Kepala ekonomi di British Chambers of Commerce, Suren Thiru mengatakan bahwa kecepatan dan skala penyebaran Covid-19 yang menghantam ekonomi Inggris merupakan suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga penurunan laju pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama kemungkinan akan diikuti oleh kontraksi lebih lanjut dalam aktifitas ekonomi di kuartal kedua.

Pada pekan lalu Bank of England mengatakan bahwa ekonomi Inggris berpotensi berada di jalur penurunan tahunan paling tajam dalam lebih dari 300 tahun, seraya menyampaikan bahwa penurunan sebesar 14% kemungkinan akan diikuti oleh kenaikan sebesar 15% pada tahun 2021 mendatang.

Office for National Statistics juga menyampaikan bahwa output di sektor jasa raksasa Inggris turun dengan rekor 1.9% pada kuartal pertama dan sektor produksi serta konstruksi juga mengalami kontraksi yang signifikan.

Ruth Gregory selaku seorang ekonom di Capital Economics mengatakan bahwa mengingat ekonomi tumbuh sekitar 0.1% di tingkat kuartalan sebelum diberlakukannya lockdown, maka rilis data hari ini memberikan gambaran bahwa kegiatan ekonomi pasca diberlakukannya lockdown di 23 Maret, telah mencatat penurunan hingga 21%.(