Minyak Turun Akibat Berlarutnya Kekhawatiran Terhadap Pandemi Kedua

Minyak Turun Akibat Berlarutnya Kekhawatiran Terhadap Pandemi Kedua
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Berlarut-larutnya kekhawatiran mengenai ancaman terhadap laju permintaan bahan bakar akibat dari peningkatan kembali infeksi virus corona di seluruh dunia, menimbulkan tekanan bagi harga minyak meskipun harapan terhadap pemangkasan pasokan minyak lebih lanjut dinilai mampu membendung kerugian.

Minyak mentah berjangka jenis Brent Crude mencatat penurunan 0.5% setelah naik sebesar 2.6% di sesi perdagangan kemarin, sementara minyak mentah berjangka AS melemah hampir 0.6% setelah ditutup 2.4% lebih tinggi di sesi perdagangan awal pekan ini.

Kasus penyebaran virus corona meningkat menjadi lebih dari 8 juta di seluruh dunia, dengan lonjakan pandemi di wilayah Amerika Latin, sementara di AS dan China tengah menghadapi penyebaran wabah baru.

Namun demikian para pengamat mengharapkan bahwa tidak akan ada kebijakan lockdown kembali yang lebih ketat seperti yang terjadi di awal tahun ini.

Hal ini dikomentari oleh Stephen Innes selaku Kepala Strategi Pasar Global di AxiCorp, yang mengatakan bahwa di tengah penekanan bahwa pemulihan permintaan cenderung menjalani proses yang lambat, namun begitu nampaknya kita tidak mungkin untuk kembali kepada langkah-langkah lockdown.

Sementara sejumlah analis mengatakan bahwa timbulnya harapan terhadap lebih banyak pemotongan pasokan minyak oleh produsen utama yang telah membantu mencegah penurunan harga yang lebih tajam.

Sebelumnya harga minyak mentah sempat naik setelah menteri Energi Uni Emirat Arab menyatakan keyakinannya bahwa produsen OPEC+, yang belum sepenuhnya mematuhi kebijakan pemagkasan yang disepakati sebelumnya akan meningkatkan kepatuhan mereka.

Terkait akan hal ini analis pasar senior di OANDA, Edward Moya mengatakan bahwa optimisme baru mengenai pemangkasan produksi OPEC+ dapat berjalan di tempat jika kekhawatiran pasar terhadap gelombang pandemi kedua mengintensifkan harga minyak yang menghindari kejatuhan yang tajam.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan negara sekutu termasuk Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, sepakat bulan ini untuk memperpanjang pengurangan produksi 9.7 juta barel per hari hingga Juli, selain itu mereka juga meminta para anggotanya yang belum mematuhi kebijakan tersebut untuk membuat komitmen mereka sendiri dengan menerapkan pemangkasan tambahan.

Sedangkan produsen shale oil AS juga dilaporkan telah mengurangi aktifitas pengeboran di tengah jatuhnya permintaan terhadap minyak, menyusul berita bahwa perusahaan pengeboran AS telah memangkas produksi dan jumlah rig minyak, hingga turun di bawah angka 200 pada pekan lalu, yang mana ini merupakan angka terendahnya sejak Juni 2009 silam.(

Gulir ke Atas