Minyak Terus Tergerus Lemahnya Laju Permintaan Global

Minyak Terus Tergerus Lemahnya Laju Permintaan Global
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Minyak mentah berjangka kembali mengalami penurunan lebih lanjut di sesi perdagangan hari ini setelah sebelumnya jatuh lebih dari 5% di sesi perdagangan sebelumnya, seiring kenaikan persediaan minyak mentah AS hingga menyentuh rekornya serta ditambah lonjakan cepat dalam kasus Covid-19 sehingga menimbulkan keraguan terhadap laju pemulihan permintaan bahan bakar.

Harga minyak mentah berjangka AS jenis West Texas Intermediate mencatat penurunan 0.6%, sementara minyak jenis Brent Crude turun 0.7% hingga menjelang sesi perdagangan Eropa siang hari ini.

Pada sesi perdagangan sehari sebelumnya, kontrak minyak acuan mencapai harga tertingginya sejak awal Maret, tepat sebelum adanya lockdown pandemi serta perang harga antara Arab Saudi dan Rusia yang menghantam pasar.

Avtar Sandu yang menjabat sebagai manajer komoditas senior di broker Phillip Futures yang berbasis di Singapura, mengatakan bahwa penurunan harga saat ini terjadi setelah data dari lembaga EIA memberikan isyarat adanya peningkatan inventaris yang jauh lebih tinggi dari yang diharapkan.

Namun para analis mengatakan bahwa meningkatnya persediaan sebanyak 1.4 juta barrel, sebagian besar disebabkan oleh armada kargo Saudi yang dipesan oleh perusahaan penyuling AS saat harga mengalami kemerosotan di bulan Maret lalu.

Sementara itu Jeffrey Halley selaku analis pasar senior di OANDA mengatakan bahwa sebelumnya pasar sedikit mengabaikan angka inventaris yang jauh lebih tinggi dalam beberapa waktu belakangan ini saat terjadi momentum yang kuat, sehingga dengan kata lain fakta yang ada saat ini telah sesuai dengan narasi yang diinginkan oleh pasar.

Selain itu kekhawatiran mengenai gelombang kedua kasus Covid-19 di beberapa negara bagian AS, dimana kebijakan lockdown mereda, sehingga penyebaran infeksi yang cepat di kawasan Amerika Selatan dan Asia Selatan diperkirakan akan menutup laju permintaan bahan bakar.

Terkait masalah permintaan bahan bakar saat ini, maskapai terkemuka asal Australia, Qantas Airways mengatakan bahwa pihaknya telah memperkirakan terjadinya sedikit kebangkitan dalam jumlah perjalanan internasional setidaknya hingga Juli 2021 mendatang, menyusul perusahaan tersebut telah memangkas tenaga kerjanya hingga seperlima dari total jumlah pekerjanya serta telah memulai aktifitas penerbangan hingga 100 unit pesawat.(

Gulir ke Atas