Minyak mentah Mencatat Kenaikan Didukung Kesepakatan OPEC+

Minyak mentah Mencatat Kenaikan Didukung Kesepakatan OPEC+
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Harga minyak mencatat kenaikan di sesi perdagangan hari ini setelah negara-negara produsen utama minyak bersepakat untuk memperpanjang kebijakan pemangkasan rekor produksi mereka hingga akhir Juli mendatang serta didukung oleh impor minyak mentah China yang mencapai rekor tertingginya sepanjang masa pada bulan Mei lalu.

Minyak mentah berjangka jenis Brent mencatat kenaikan 2.1%, sementara jenis West Texas Intermediate mencatat kenaikan 1.6% diatas harga $40 per barrel.

Untuk minyak mentah jenis Brent telah mencatat kenaikan hampir dua kali lipat sejak Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia dan sekutunya, yang dikenal dengan OPEC+, bersepakat di bulan April lalu untuk mengurangi pasokan hingga 9.7 juta barrel perhari selama bulan Mei hingga Juni guna menopang harga yang runtuh akibat pandemi Covid-19.

Pada akhir pekan kemarin kelompok OPEC+ kembali menyepakati untuk memperpanjang kesepakatan untuk menarik hampir 10% pasokan global dari pasar pada bulan ketiga hingga akhir Juli mendatang. Terkait perpanjangan kebijakan tersebut,

Arab Saudi selaku negara produsen dan eksportir utama telah menaikkan harga minyak mentah bulanan untuk pengiriman Juli.

Namun Howie Lee selaku ekonom di bank OCBC Singapura, mencatat bahwa kesepakatan terakhir tersebut dinilai telah jauh dari harapan pasar untuk perpanjangan kebijakan pengurangan output selama tiga bulan kedepan.

Lee juga mengatakan bahwa kedua jenis minyak mentah yang menjadi tolok ukur tersebut akan membutuhkan faktor-faktor bullish yang lebih kuat untuk mendorong harga kembali ke level sebelum 6 Maret, saat harga minyak keduanya mengalami kejatuhan setelah OPEC dan Rusia yang gagal mencapai kesepakatan awal mengenai pengurangan pasokan.

Dengan harga yang rendah maka China selaku importir minyak mentah terbesar, telah meningkatkan laju impor minyaknya sehingga laju pembelian meningkat ke level tertingginya sepanjang masa di angka 11.3 juta barrel per hari pada bulan Mei lalu.

Walau bagaimanapun langkah OPEC+ untuk memperpanjang pemangkasan hingga Juli mendatang, sehingga diperkirakan akan menyebabkan defisit pasokan pada Oktober, membantu harga dalam jangka panjang.

Mayoritas pelaku pasar untuk saat ini tengah mengamati tingkat kepatuhan di antara anggota OPEC seperti Irak dan Nigeria, yang melebihi kuota produksi pada Mei dan Juni sebagai isyarat bagi pola perdagangan.

Tingkat pasokan minyak mentah Libya juga bisa naik segera setelah dua ladang minyak utama telah dibuka kembali setelah berbulan-bulan mengalami blokade yang mematikan sebagian besar produksi negara itu.

Kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets, Helima Croft mengatakan bahwa potensi pengembalian output Libya juga berpotensi menyebabkan timbulnya tantangan besar bagi kepemimpinan OPEC, bahkan di saat harga minyak pulih, mereka masih jauh di bawah biaya sebagian besar produsen shale oil AS, yang mengarah ke penutupan bisnis, PHK dan pemangkasan biaya di negara produsen terbesar dunia tersebut.

Sedangkan menurut data yang dirilis oleh Baker Hughes Co menunjukkan jumlah rig pengeboran minyak dan gas alam yang beroperasi di AS turun ke rekor terendahnya dalam lima pekan berturut-turut di minggu yang berakhir 5 Juni kemarin. Selain itu hampir 30% dari output minyak lepas pantai AS juga ditutup pada hari Jumat ketika badai tropis Cristobal memasuki Teluk Meksiko.

Gulir ke Atas