• 12 Desember 2019

Minyak Mentah Kembali Turun Akibat Kekhawatiran Global

Harga minyak mentah kembali mengalami penurunan di sesi perdagangan awal pekan ini, di tengah kekhawatiran mengenai laju pertumbuhan ekonomi global pasca Presiden Trump berjanji untuk menerapkan kebijakan tarif tambahan yang meningkatkan tensi trade war dengan Cina dan berpotensi membatasi laju permintaan terhadap minyak mentah dari AS dan Cina.

Minyak mentah berjangka jenis West Texas Intemediate dilaporkan turun 73 sen atau sekitar 1.3% saat memasuki jam perdagangan waktu Eropa siang ini. Sementara itu pasar ekuitas di kawasan Asia mencatat penurunan hingga ke level terendahnya dalam enam bulan terakhir di sesi perdagangan hari ini, di tengah aksi para investor yang mengalihkan dananya ke aset safe haven akibat dari meningkatnya perselisihan perdagangan AS-Cina sehingga mampu memberikan dukungan bagi kenaikan harga Emas.

Benjamin Lu, analis komoditas di broker Phillip Futures yang berbasis di Singapura, mengatakan bahwa minyak mentah berjangka tengah mengalami hambatan yang signifikan akibat lemahnya aksi risk appetite yang lemah seiring prospek perlambatan pertumbuhan globak serta meningkatnya tensi hubungan dagang antara AS-Cina.

Komentar terakhir Trump yang akan menerapkan kebijakan tarif tambahan, telah membuat AS akan memperluas tarif impor AS kepada hampir semua produk impor Cina. Trade war ini masih belum akan berhasil seiring pihak Beijing berjanji untuk melawan setiap keputusan dari Trump, yang dinilai akan semakin membuat negosiasi dagang diantara keduanya tidak akan mampu mencapai kata sepakat dalam perdagangan keduanya.

Sedangkan pada hari ini Cina telah membiarkan mata uang Yuan jatuh hingga melampaui level 7 per Dollar untuk yang pertama kalinya dalam lbh dari satu dekade terakhirnya. Dengan demikian nilai tukar Yuan yang rendah akan semakin meningkatkan biaya impor Minyak dalam mata uang Yuan, selaku importir minyak mentah terbesar di dunia.

Selain itu tekanan terhadap harga minyak mentah, dapat terlihat dari munculnya tanda-tanda meningkatnya ekspor minyak dari AS. Dilaporkan oleh Biro Sensus di AS, bahwa laju pengiriman minyak dari AS, mengalami lonjakan hingga sebesar 260 ribu barrel per hari selama bulan Juni hingga menyentuh rekor bulanannya di 3.16 juta barrel per hari. Setidaknya tren dari para spekulan untuk mengurangi posisi bullish mereka di pasar berjangka minyak WTI, banyak disebabkan oleh Trade War yang berlarut-larut serta meningkatnya pasokan minyak mentah global.

Selain itu penghitungan jumlah anjungan pengeboran minyak yang beraktifitas selama sepekan di AS, yang menjadi indikator produksi minyak di masa mendatang, dilaporkan turun dalam lima pekan berturut-turut akibat dari mayoritas produsen independen yang memangkas pengeluaran meskipun sejumlah perusahaan besar masih terus melakukan investasi di proyek pengeboran baru. Sedangkan penyitaan sebuah kapal tanker minyak Irak oleh Iran, telah menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan minyak Timur Tengah di kawasan Teluk.(WD)