Minyak Menguat Seiring Ekspektasi Pemulihan Global

Minyak Menguat Seiring Ekspektasi Pemulihan Global
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Di tengah ekspektasi pemulihan ekonomi global pasca Senat AS yang telah menyetujui pengeluaran untuk stimulus sebesar $ 1.9 triliun serta ditambah kemungkinan pengurangan persediaan minyak mentah AS, sebagai negara konsumen bahan bakar terbesar dunia, yang kesemuanya menjadi faktor pendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.

Akan tetapi kinerja mata uang US Dollar yang lebih kuat serta meredanya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan dari negara eksportir minyak terbesar dunia, Arab Saudi setelah mengalami serangan terhadap fasilitas ekspor minyaknya, sepertinya berpotensi menjadi penghambat bagi kenaikan harga minyak.

Hingga memasuki sesi perdagangan waktu Eropa siang hari ini, harga minyak mentah jenis Brent Crude untuk kontrak bulan Mei naik 53 sen atau sekitar 0.8%, sementara minyak mentah jenis West Texas Intermediate AS untuk kontrak bulan April mencatat kenaikan 44 sen atau sekitar 0.7%.

Dalam sebuah catatannya Stephen Innes selaku kepala strategi pasar global di Axi, mengatakan bahwa faktor fundamental saat ini masih tetap akan memberikan dukungan, terutama dari Arab Saudi yang berada dalam kendali penuh untuk mengejar kebijakan harga minyak yang ketat.

Sebelumnya harga minyak mentah jenis Brent Crude naik diatas $ 70 per barrel di awal pekan ini, setelah pasukan Houthi dari Yaman menambakkan drone dan rudal ke jantung industri minyak milik Arab Saudi, termasuk fasilitas produksi milik Saudi Aramco di Ras Tanura yang merupakan fasilitas penting untuk kegiatan eksport minyak mentah.

Meskipun pihak Riyadh menyatakan bahwa tidak ada korban jiwa atau kehilangan properti sehingga menekan harga minyak, namun pihak AS menyatakan kekhawatirannya terhadap ancaman keamanan dari pihak Houthi, yang bersekutu dengan pihak Iran di Yaman, terhadap Arab Saudi seraya menyatakan bahwa pihak AS akan meningkatkan dukungan bagi pertahanan Arab Saudi.

Serangan terhadap fasilitas tersebut terjadi setelah OPEC beserta Rusia dan negara sekutunya, lebih dikenal sebagai OPEC+, bersepakat untuk tetap berpegang teguh terhadap kebijakan pengurangan produksi minyak mereka, meskipun harga minyak mentah tetap berada di jalur kenaikannya.

Sebuah jajak pendapat dari Reuters terhadap sejumlah ekonom memperkirakan bahwa stok minyak mentah dan produk olahan minyak AS kemungkinan akan mengalami penurunan di pekan lalu, dengan persediaan produk sulingan yang terlihat mengalami penurunan dalam lima pekan secara beruntun.

Namun demikian fokus para investor masih tertuju pada prospek pemulihan ekonomi global, seiring pada awal pekan ini Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan bahwa paket stimulus untuk Covid-19 senilai $ 1.9 triliun dari Presiden Joe Biden, akan menjadi sumber daya yang cukup untuk mendorong pemulihan ekonomi AS yang lebih kuat, dan saat ini paket bantuan yang telah disetujui oleh Senat AS harus mendapatkan pengesahan dari pihak DPR untuk menjadi undang-undang.

Lebih lanjut Edward Moya yang menjabat sebagai analis pasar senior di Moya, mengatakan bahwa faktor fundamental sama sekali tidak akan berubah terhadap harga minyak, dan saat ini para investor kemungkinan secara otomatis akan melakukan pembelian minyak mentah pada setiap pergerakan turun dari harga minyak tersebut.(WD)

Sumber: news.topgrowthfutures.co.id
PT Topgrowth Futures

Artikel Forex Lainnya

Gulir ke Atas