Minyak Menguat Namun Dibatasi Prospek Ekonomi AS Yang Suram

Data persediaan minyak mentah AS yang turun secara tidak terduga telah menyebabkan dorongan naik bagi harga minyak mentah berjangka, namun kenaikan ini dibatasi oleh suramnya prospek ekonomi AS akibat dampak pandemi virus corona yang menghantam permintaan bahan bakar.

Dalam dua pekan terakhir harga minyak tetap mengalami peningkatan yang stabil seiring beberapa negara melonggarkan pembatasan dan lockdown pandemi Covid-19, yang memungkinkan sejumlah pabrik dan toko untuk dibuka kembali.

Akan tetapi sejumlah kasus baru telah muncul di Korea Selatan dan Cina, sehingga meningkatkan kekhawatiran tentang kemungkinan gelombang infeksi kedua yang akan membebani pemulihan ekonomi dan permintaan bahan bakar.

Pada kesempatan pidatonya semalam Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell memperingatkan mengenai “periode panjang” pertumbuhan ekonomi yang lemah dan menyerukan belanja fiskal tambahan untuk mencegah dampak dari virus.

Penurunan persediaan minyak mentah AS memberikan beberapa dukungan untuk harga di awal sesi perdagangan, tetapi analis pasar senior di OANDA, Edward Moya menilai bahwa penarikan lebih besar selama beberapa minggu ke depan akan diperlukan untuk mendorong harga.

Moya mengemukakan bahwa saat ini sulit untuk bersemnagat mengenai stabilitas kenaikan terhadap permintaan minyak mentah di saat AS sebagai ekonomi terbesar dunia masih memiliki ketidakpastian secara signifikan mengenai prospek dan risiko penurunan.

Dilaporkan oleh Energy Information Administration bahwa persediaan minyak mentah AS turun sebanyak 745.000 barel menjadi 531.5 juta barel dalam pekan yang berakhir hingga 8 Mei, sehingga angka ini menandai penurunan pertama sejak Januari, sementara analis dalam jajak pendapat Reuters memperkirakan kenaikan 4,1 juta barel.

OPEC mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan permintaan minyak global 2020 menyusut sebesar 9.07 juta barel per hari, lebih buruk daripada perkiraan kontraksi sebelumnya sebesar 6.85 juta barel per hari, di tengah merosotnya penggunaan bahan bakar.

Pada bulan April lalu, OPEC beserta produsen lainnya termasuk Rusia, yang membentuk kelompok OPEC+, telah sepakat untuk mengurangi jumlah produksi minyak hingga sebesar 9.7 juta barel per hari di bulan Mei dan Juni, seiring Arab Saudi selaku pemimpin OPEC secara de facto, mengatakan bahwa akan melakukan pemangkasan tambahan sebanyak 1 juta barel per hari menjadi 7.5 juta barel per hari mulai bulan Juni mendatang.(