Minyak Kembali Turun Akibat Potensi Melambatnya Permintaan

Harga minyak mentah berjangka turun di sesi perdagangan waktu Eropa pada hari ini, menyusul tantangan ekonomi yang kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi perlambatan pertumbuhan permintaan minyak global serta pemulihan yang lebih cepar dalam output produksi minyak mentah Arab Saudi sehingga mengurangi kecemasan pasar terhadap gangguan potensial terhadap pasokan minyak.

International Energy Agency (IEA) mengatakan bahwa pihaknya dapat memangkas estimasi pertumbuhan permintaan minyak global untuk tahun ini dan tahun depan, dengan catatan bahwa ekonomi global semakin melemah.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol kepada Reuters, mengatakan bahwa hal itu akan bergantung pada kondisi ekonomi global, yang mana jika ekonomi global melemah berarti sudah terlihat tanda bahwa pihaknya dapat menurunkan ekspektasi permintaan terhadap minyak global.

Sementara itu di Cina sebagai negara ekonomi terbesar kedua serta negara importir minyak mentah terbesar dunia, perusahaan industri melaporkan laba di bulan Agustus yang mengalami kontraksi, membalikkan ekspansi di bulan sebelumnya, akibat dari permintaan domestik yang lemah serta perselisihan perdagangan dengan pihak AS yang telah menimbulkan beban terhadap neraca perusahaan.

Edward Moya selaku analis pasar senior di OANDA, mengatakan bahwa harga minyak akan terus meluncur ke level yang lebih rendah pasca penurunan keuntungan industri Cina di bulan Agustus, sehingga memperkuat kekhawatiran bahwa ekonomi Cina akan terus mengalami perlambatan.

Pemulihan yang lebih cepat dari output produksi minyak mentah dari negara pengekspor minyak utama dunia, Arab Saudi turut memberikan tekanan terhadap premi risiko dan menyeret harga minyak mentah ke harga yang lebih rendah. Ahli strategi pasar Asia Pasifik di AxiTrader,

Stephen Innes menilai bahwa mayoritas pergerakan pasar minyak sepanjang pekan ini, diperdagangkan lebih rendah karena bullish minyak mendapatkan hambatan dari pemulihan yang lebih cepat dari harapan terhadap produksi minyak Arab Saudi.

Minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate turun hingga 3.4% sepanjang pekan ini, yang menandai kerugian mingguan terbesarnya dalam 10 pekan terakhir, sementara jenis Brent mencatat penurunan 3.3% di pekan ini yang merupakan kerugian mingguan terbesanya dalam tujuh pekan.

Selain itu data persediaan minyak mentah AS di pekan lalu sebesar 2.4 juta barrel yang sedikit mengejutkan pasar, telah menimbulkan tekanan terhadap harga. Sejumlah analis menilai bahwa laju inventaris minyak AS kemungkinan akan mengalami kenaikan lebih lanjut dalam waktu dekat, sehingga akan semakin menekan harga minyak seiring kilang minyak AS yang mengekang aktifitas maintenance.

Lebih lanjut Innes mengatakan bahwa laju permintaan yang lebih rendah yang diharapkan dari input minyak ke kilang AS, biasanya akan membuat persediaan minyak mentah AS mengalami peningkatan, yang kesemuanya dapat menimbulkan risiko penurunan yang signifikan untuk pergerakan harga minyak yang lebih cepat.

Rincian perkembangan yang muncul terkait dengan penyelidikan impeachment terhadap Presiden AS Donald Trump, dinilai dapat membantu sentimen terhadap permintaan.

Margaret Yang Yan, seorang analis pasar di CMC Markets, menilai bahwa penyelidikan impeachment Trump dapat menimbulkan ketidakpastian seputar kebijakan luar negeri AS, terutama terhadap Iran dan Cina. Yan mengatakan bahwa pasar menilai bagaimana turbulensi politik ini dapat membawa pengaruh terhadap kemampuan dan posisi Trump untuk menjatuhkan sanksi kepada Iran lebih lanjut, yang tentunya akan memiliki dampak signifikan terhadap pasokan minyak global.(WD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *