• 21 Januari 2020

Meskipun Turun Namun Minyak Masih Di Jalur Kenaikan Mingguan

Harga komoditas minyak kembali jatuh di sesi perdagangan akhir pekan ini, namun masih berada di jalur kenaikan mingguan yang kuat, seiring dukungan dari data inventaris AS yang mengejutkan serta tindakan dari OPEC dan sekutunya untuk memangkas output produksinya lebih lanjut.

Minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate turun 32 sen, namun masih berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 4% lebih tinggi. Kenaikan mingguan yang kuat mendapatkan dukungan dari penurunan persediaan minyak mentah AS yang mengejutkan pasar, dengan total persediaan minyak mentah dan produksi minyak AS yang mencatat penurunan sekitar 10 juta barrel di pekan lalu.

Dukungan tersebut ditambah lagi dengan pernyataan para pejabat OPEC yang mengatakan bahwa pembatasan pasokan yang diperpanjang adalah opsi untuk mengimbangi prospek permintaan yang lebih lemah di tahun 2020 mendatang.

Arab Saudi selaku pemimpin OPEC secara de facto, akan menjadi negara pertama yang terfokus pada peningkatan kepatuhan terhadap pakta pengurangan produksi dari kelompok OPEC+, bersama dengan Rusia dan negara produsen non-OPEC lainnya, sebelum berkomitmen untuk melakukan pemangkasan lebih banyak lagi.

Pengurangan hingga sekitar 150 ribu barrel per hari dari ladang minyak Buzzard di Inggris sejak 16 Oktober lalu, serta penutupan sementara jalur pengiriman di North Sea’s Forties Pipeline System, turut memberikan dukungan signifikan terhadap harga minyak.

Akan tetapi diluar itu semua, kekhawatiran terhadap melemahnya pertumbuhan ekonomi global, masih tetap menjadi faktor utama bagi pergerakan harga minyak.

Jeffrey Halley, analis pasar senior di OANDA, mengatakan bahwa perlambatan aktifitas global akan menjadi faktor utama bagi penurunan laju permintaan, sehingga pada dasarnya dukungan terhadap kenaikan harga minyak akan terbatas.

Dalam sebuah jajak pendapat oleh Reuters terhadap sejumlah ekonom, disebutkan bahwa penurunan tajam di pertumbuhan ekonomi global tetap menjadi kemungkinan utama bagi pergerakan minyak, dibandingkan pemulihan yang mengalami sinkronisasi, bahkan disaat banyak bank sentral yang menerapkan kebijakan pelonggaran moneter.

Dalam jajak pendapat lainnya dari Reuters, para ekonom menilai bahwa gencatan senjata di perang dagang AS-Cina bukan merupakan suatu titik balik ekonomi dan sepertinya tidak memberikan jaminan apapun untuk mengurangi risiko bahwa AS dapat tergelincir ke jurang resesi dalam dua tahun ke depan.

Laju perlambatan masih terlihat dari semakin banyaknya tanda-tanda ke arah tersebut, seperti hasil sebuah survei yang menyebutkan bahwa pekerjaan sektor swasta di Jerman, jatuh untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir di bulan Oktober.(