Meningkatnya Tensi Ketegangan Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak

Harga minyak berjangka AS kembali mengalami lonjakan setelah militer Iran menembak jatuh drone milik militer AS, sehingga memicu Presiden Donald Trump untuk melemparkan komentar di Twitter kepada pihak Teheran yang berpotensi memicu kekhawatiran terhadap konflik antara kedua negara.

Minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate mencatat kenaikan 5.4% setelah sebelumnya juga melonjak 6% di sesi perdagangan pagi hari. Trump mengkritik pemerintahan Teheran yang dinilai telah membuat kesalahan yang sangat besar sekaligus sulit untuk mempercayai, sembari menambahkan bahwa publik akan mencari tahu lebih lanjut mengenai apakah AS berencana untuk membalas dengan serangan militer.

Sebelum terjadi serangan terhadap pesawat tak berawak yang terbang atas Selat Hormuz, AS telah melemparkan tuduhan bahwa Iran telah melakukan serangan baru-baru ini terhadap kapal tanker minyak di wilayah Teluk Persia.

Dengan semakin tegangnya hubungan antar kedua negara, harga minyak mengalami lonjakan, dikarenakan lebih dari 20% produksi minyak dunia berasal dari kawasan Timur Tengah, sehingga ancaman apapun terhadap alur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dapat mempengaruhi pasokan minyak mentah dunia.

Selain itu dukungan terhadap harga minyak dunia datang dari besarnya harapan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuannya di pertemuan kebijakan berikutnya, sehingga mampu mendorong laju pertumbuhan di AS sebagai negara konsumen minyak terbesar di dunia.

Kepala strategi komoditas global RBC, Helima Croft mengatakan bahwa ditembaknya drone milik AS serta ditambah dengan cuitan Trump mengenai Iran dari Presiden Trump, akan menjadi dasar peningkatan risiko pasar yang ditiimbulkan oleh insiden tersebut.

Pada laporannya di pekan ini Energy Information Administration menyebutkan bahwa stok minyak mentah AS turun hingga 3.1 juta barrel di pekan lalu, lebih besar dari ekspektasi analis. Lembaga OPEC dan sekutu-sekutunya termasuk Rusia telah bersepakat pada pekan ini untuk melakukan pertemuan pada awal bulan Juli mendatang, guna mengakhiri perselisihan mengenai waktu pertemuan dalam satu bulan terakhirnya.

Koalisi yang dikenal dengan sebutan OPEC+ akan membahas mengenai apakah pihaknya akan memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi minyak hingga 1.2 juta barrel per hari hingga akhir tahun ini, yang mana kesepakatan awal akan berakhir pada akhir bulan Juni ini.(WD)

Sumber: Topgrowth Futures, Bloomberg.