Level Minyak Stabil Pasca OPEC+ Melanjutkan Kebijakannya

Pasca pemangkasan tajam yang dialami oleh komoditas minyak di sesi perdagangan sebelumnya, level komoditas minyak kembali stabil saat memasuki sesi perdagangan waktu Eropa hari ini, seiring dukungan dari pemangkasan produksi yang disepakati oleh OPEC dan sekutunya meskipun masih tersisa kecemasan bahwa ekonomi global akan mengalami perlambatan sehingga mengganggu jalur permintaan.

Selain itu kenaikan level minyak mentah juga mendapat dukungan dari data persediaan minyak mentah AS oleh lembaga independen, yang menunjukkan adanya penyusutan lebih besar dari yang diperkirakan, sementara data resmi dari pemerintah AS baru akan dirilis pada malam hari nanti.

Minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate hingga saat ini mencatat kenaikan 0.3% ke level $56.42 per barrel. Pada Selasa kemarin para negara anggota OPEC, bersama dengan Rusia telah sepakat untuk memperpanjang kebijakan pengurangan pasokan minyak hingga bulan Maret 2020 mendatang.

Amarpreet Singh, selaku analis di Barclays Commodities Research, dalam catatannya mengatakan bahwa pertemuan OPEC+ memberikan gambaran bahwa para negara anggota telah bersatu dalam masa-masa sulit, ditandai dengan melemahnya prediksi permintaan global, yang bertujuan untuk menyeimbangkan pasar minyak dunia. Setidaknya hal tersebut memberikan dukungan bagi pandangan para analis pasar, bahkan disaat para pelaku pasar tengah terfokus kepada setiap petunjuk dari lemahya data makro.

Pada hari Selasa kemarin, kelompok industri American Petroleum Institute (API), mengatakan bahwa persediaan minyak mentah AS turun sebanyak 5 juta barrel di pekan lalu, lebih besar dari perkiraan pemangkasan sebesar 3 juta barrel.

Sementara salah seorang analis di Citi Research mengatakan bahwa perjanjian OPEC + untuk memperpanjang pengurangan produksi minyak selama sembilan bulan kedepan, setidaknya harus mampu untuk mengurangi persediaan minyak di paruh kedua tahun, sehingga dapat mendorong level minyak mentah dunia.

Akan tetapi semakin banyaknya tanda-tanda perlambatan ekonomi global, yang memukul pertumbuhan permintaan minyak, telah mengkhawatirkan para investor, terlebih pasca dirilisnya indikator manufaktur global yang mengecewakan serta pihak AS yang kembali membuka potensi perselisihan perdagangan lanjutan, setelah mereka mengeluarkan ancaman pemberlakuan kenaikan tingkat pajak kepada Uni Eropa.

Pihak Barclays mengharapkan bahwa permintaan minyak mentah setidaknya akan tumbuh, meskipun di jalur paling lambat sejak 2011 silam, sekitar 1 juta barrel per hari di tingkat tahunan. Sedangkan Morgan Stanley justru menurunkan perkiraan level minyak mentah jenis Brent untuk jangka panjang, menjadi $60 per barrel dari $65 per barrel, sembari mengatakan bahwa pasar minyak akan seimbang secara lebih luas di tahun ini.

Namun demikian level minyak mentah nampaknya akan dibatasi oleh adanya tanda-tanda pemulihan ekspor minyak dari Venezuela di bulan Juni lalu, serta pertumbuhan produksi minyak di Argentina selama bulan Mei lalu.(WD)

Sumber: Topgrowth Futures, Investing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini