fbpx

Lemahnya Sektor Bisnis Berpotensi Menekan Target GDP AS

Lemahnya Sektor Bisnis Berpotensi Menekan Target GDP AS
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Merosotnya sektor bisnis di tengah ketegangan perdagangan sepanjang tahun lalu, sepertinya masih menjadi hambatan bagi tercapainya target pertumbuhan tahunan 3% menyusul kemungkinan bahwa data pertumbuhan AS menunjukkan laju yang moderat di periode kuartal keempat lalu.

Laporan Gross Domestic Product yang akan dirilis oleh Departemen Perdagangan AS malam nanti, kemungkinan besar memberikan gambaran bahwa keputusan memangkas suku bunga sebanyak tiga kali oleh The Fed di tahun lalu, mampu membantu menjaga ekspansi ekonomi terpanjang dalam sejarah tetap di jalurnya sekaligus mencegah penurunan.

Walau bagaimanapun laju pertumbuhan terbukti mengalami perlambatan, seiring memudarnya stimulus dari Gedung Putih serta pemangkasan pajak besar-besaran di tahun 2018, yang mematahkan target Presiden Donald Trump yang berupaya mengangkat pertumbuhan stabil di atas 3%.

Laporan pertumbuhan ini datang setelah Federal Reserve memutuskan untuk suku bunga tidak berubah di kisaran 1.75%, diiringi harapan The Fed melalui Ketua Jerome Powell bahwa pertumbuhan ekonomi akan tumbuh lebih lanjut di kecepatan moderat, meskipun dirinya juga mengakui adanya sejumlah risiko, termasuk wabah virus Corona dari Cina yang merebak dalam beberapa waktu terakhir.

Selama 18 bulan ekonomi AS teribas perang dagang dengan Cina, yang meskipun prospek terus membaik seiring penandatangan kesepakatan fase pertama, namun sejumlah kalangan belum melihat adanya dukungan menyusul kebijakan tarif AS yang masih tetap berlaku terhadap impor Cina senilai hingga $360 milliar, atau sekitar dua pertiga dari total nilai perdagangan keduanya.

Perkiraan resmi dari survei Reuters menyebutkan bahwa produk domestik bruto AS akan tumbuh 2.1% di tingkat tahunan selama kuartal keempat lalu, seiring biaya pinjaman yang lebih rendah sehingga mendorong laju pembelian kendaraan bermotor, rumah serta barang-barang bernilai besar lainnya.

Sementara itu tagihan yang lebih kecil dan tingginya pengeluaran pemerintah turut menjaga laju pertumbuhan GDP di kecepatan yang sama seperti yang terlihat di kuartal ketiga sebelumnya. S

ebelumnya Gedung Putih selalu mengklaim bahwa dengan langkah pemangkasan tarif pajak terhadap perusahaan serta menyusutnya besaran defisit perdagangan akan memberikan dorongan bagi pertumbuhan GDP tahunan menjadi 3% secara berkesinambungan.

Akan tetapi para ekonom banyak yang tidak sependapat sembari merujuk kepada tingkat produktivitas yang masih rendah serta pengaruh dari pertumbuhan populasi penduduk, dan beberapa analis juga menilai bahwa tidak ada hubungan yang sangat kuat antara tarif pajak perusahaan dengan pertumbuhan investasi bisnis secara historis.

Investasi bisnis kemungkinan besar mengalami kontraksi lebih lanjut di kuartal keempat lalu setelah mencatat penurunan terbesar dalam empat tahun pada periode kuartal Juli-September, akibat sentimen perang dagang yang menggerus kepercayaan bisnis sekaligus membebani laju pengeluaran modal.(

Gulir ke Atas