Laju Inflasi Konsumen Inggris Untuk Bulan Mei Turun

Laju Inflasi Konsumen Inggris Untuk Bulan Mei Turun
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Tingkat inflasi di Inggris untuk bulan Mei lalu dilaporkan turun ke level terendahnya sejak Juni 2016 seiring pandemi Covid-19 yang menghambat laju permintaan global serta menyebabkan jatuhnya harga minyak, sehingga membuat Bank of England meningkatkan program stimulusnya.

Office for National Statistics melaporkan laju inflasi harga konsumen melambat menjadi 0.5% dari 0.8% pada bulan April, yang mana angka tersebut sejalan dengan perkiraan median dalam jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom.

Sementara itu laju inflasi inti, yang tidak termasuk harga energi, makanan, alkohol dan tembakau yang volatile, menunjukkan penurunannya menjadi 1.2% dari 1.4% di bulan April sebelumnya, sedangkan para ekonom memperkirakan penurunan tipis ke 1.3%.

Deputi Statistik Nasional ONS Jonathan Athow mengatakan bahwa ada penurunan harga secara terus menerus di bulan Mei, menyusul penurunan harga minyak mentah yang tajam yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini.

Sebagian besar ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan BoE akan mengumumkan tambahan 100 miliar Pounds untuk program pembelian obligasi ketika menerbitkan keputusan kebijakan untuk bulan Juni pada hari Kamis besok, menyusul dari 200 miliar Pounds pembelian obligasi yang dimulai pada bulan Maret.

Sementara itu Neil Birrell selaku kepala investasi di perusahaan manajemen aset Premier Miton, mengatakan bahwa inflasi bukanlah sesuatu yang akan membuat pihak bank sentral merasa khawatir untuk beberapa waktu kedepan, dan menilai bahwa laju pertumbuhan jauh lebih penting.

Pada bulan April lalu Inggris mengalami penurunan rekor dalam output ekonominya, saat dilaporkan menyusut hingga lebih dari 20% akibat ditutupnya aktifitas bisnis kepada publik guna memperlambat penyebaran Covid-19.

Bulan lalu BoE mengatakan bahwa harga minyak yang lebih rendah, serta batasan peraturan untuk energi rumah tangga dan tagihan air, kemungkinan akan menjaga inflasi di bawah 1% selama beberapa bulan.

Selain itu Bank of England juga menambahkan bahwa laju permintaan yang lebih lemah kemungkinan besar akan menimbulkan tekanan ke bawah terhadap inflasi secara keseluruhan, meskipun nampaknya tidak masuk akal bagi semua sektor bisnis untuk memangkas harga sebagai respon terhadap penurunan laju permintaan dan akan sulit untuk mengukur sejumlah harga.

Sebagai faktor utama yang memberikan tekanan turun bagi inflasi, harga bahan bakar dan pelumas menunjukkan rekor penurunan terbesarnya di tingkat tahunan sebesar 16.7% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara itu harga pakaiandilaporkan turun 3.1%, yang merupakan penurunan terbesarnya sejak Juli 2010 silam.

Sedangkan harga output produsen, yang dinilai mampu mengarahkan tekanan harga di masa mendatang, dilaporkan turun 1.4% menyusul penurunan 0.7% di bulan sebelumnya, yang mana angka terakhir masih jauh lebih besar dibandingkan penurunan 0.9% dari para ekonom.(

Gulir ke Atas