• 15 Desember 2019

Kuroda Mendukung Paket Kebijakan Fiskal Untuk Bantuan Bencana

Kuroda Mendukung Paket Kebijakan Fiskal Untuk Bantuan Bencana

Gubernur Bank of Japan, Haruhiko Kuroda telah menyatakan dukungannya terhadap rencana pemerintah untuk menyusun paket pengeluaran fiskal untuk bantuan bencana serta langkah-langkah untuk membantu ekonomi guna mencegah peningkatan risiko global.

Serangkaian bencana alam baru-baru ini yang melanda Jepang serta tekanan terhadap ekonominya akibat dari perlambatan pertumbuhan global, telah menjadi tantangan yang harus ditangani dengan lebih baik oleh pemerintah dengan kebijakan fiskal dan kebijakan struktural.

Dalam sebuah seminar, Kuroda menyatakan bahwa pada saat yang sama, ruang fiskal untuk pemerintah Jepang agak terbatas sehingga laju pengeluaran pemerintah yang diperlukan harus bersifat lebih bijaksana.

Seiring bank sentral yang telah menggunakan sebagian besar amunisi kebijakan mereka untuk mencerminkan pertumbuhan, maka kebijakan fiskal telah menarik perhatian global sebagai alat kebijakan yang lebih berguna untuk mencegah resesi lainnya.

Para politisi di Jepang telah menumpuk tekanan terhadap pemerintah untuk menyusun paket pengeluaran besar, meningkatkan kemungkinan kebijakan fiskal dapat memainkan peran yang lebih besar dalam mempertahankan pemulihan ekonomi yang rapuh di tengah kondisi risiko lebih banyak penerbitan utang.

Kuroda mengatakan campuran langkah-langkah stimulus fiskal dan moneter adalah cara standar untuk mendukung perekonomian, dan sesuatu yang sudah dilakukan BOJ dengan menjaga biaya pinjaman tetap rendah di bawah kebijakan yield curve control (YCC).

Terkait akan yield curve, Kuroda menyampaikan juga bahwa kebijakan yield curve control, yang dimaksudkan untuk mempertahankan suku bunga jangka pendek dan jangka panjang di kisaran cukup rendah, akan membuat kebijakan fiskal menjadi lebih efektif, namun kebijakan moneter Bank of Japan akan terus dipandu oleh tujuan utama mereka yaitu mencapai stabilitas harga serta menjaga stabilitas keuangan.

Seiring wilayah Jepang yang rentan terhadap bencana topan dan gempa bumi, Kuroda menyoroti risiko terkait perubahan iklim sebagai sebuah contoh masalah baru yang harus dihadapi oleh bank sentral dalam menjaga stabilitas keuangan.

Bencana alam seperti topan yang melanda Jepang pada Oktober lalu, dapat mengikis nilai aset dan agunan, serta risiko terkait dapat menimbulkan tantangan signifikan bagi lembaga keuangan.

Lebih lanjut Kuroda mengatakan bahwa risiko terkait iklim berbeda dari adanya risiko lain karena dampak jangka panjangnya berarti bahwa dampaknya akan bertahan lebih lama dibandingkan risiko keuangan lainnya, selain itu dampaknya jauh lebih sulit diprediksi, sehingga diperlukan penyelidikan dan analisis terhadap dampak risiko terkait iklim secara lebih menyeluruh.(